Alatternakayam – Beberapa waktu terkahir, cuaca panas tengah melanda berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi para peternak broiler. Pasalnya tingginya suhu lingkungan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi ternak, apabila tidak ditangani dengan baik. Hal ini dikemukakan dalam acara Biochem Talkshow seri ke-2  yang mengangkat tema “Tantangan Peternak Broiler Menghadapi Musim Pancaroba” di Bogor, Jumat (26/5).

Selaku praktisi broiler dan Co-Founder PT Rumput Ilalang Hijau, Heri Irawan mengakui bahwa beberapa bulan terakhir suhu panas terjadi di Indonesia. Bahkan dirinya mencatat, suhu tertinggi di lingkungan kandangnya yang berada di daerah Banten bisa mencapai 37°C. Hal ini menyebabkan banyak ayam yang terkena cekaman panas atau heat stress, sehingga performa menurun, bahkan meningkatkan angka mortalitas.

“Apalagi pada ayam yang dipelihara di kandang open house ataupun semi closed house yang belum bisa sepenuhnya mengakomodir kebutuhan lingkungan yang nyaman bagi ayam. Sebagaimana kita tahu, dengan laju pertumbuhan yang sangat cepat, ayam saat ini bisa dibilang lebih manja dan menuntut ini itu. Sehingga apabila tidak diatur dengan baik, akan rawan terkena stres,” jelasnya.

Melihat hal tersebut, Heri menyarangkan untuk peternak bisa mengatur density dengan baik. Yang mana ketika memang suhu panas terjadi, peternak bisa menurunkan densitynya dari kondisi normal. Pasalnya, suhu panas dalam kandang tidak hanya berasal dari lingkungan luar, namun juga bisa dari dalam, baik dari amonia dan suhu ayam itu sendiri. Selain itu, vitamin  untuk menekan stres juga harus dilakukan. Di sisi lain, pengaturan panen juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk dicermati.

“Berbicara terkait upaya pengaturan suhu, tentu juga tidak bisa lepas dari jenis kandang yang digunakan. Kandang closed house dengan blower dan colling pad akan sangat membantu ayam dalam menghadapi panas lingkungan ini. Sedangkan untuk kandang open house, mau tidak mau hanya mengandalkan tirai, dan mungkin dengan bantuan spray air  yang bisa diberikan,” tambahnya..

Sementara itu, Septiyan Noer Erya, selaku Senior Technical Sales Executive PT Biochem Zusatzstoffe Indonesia, menambahkan bahwa cekaman panas pada ayam menjadi sebuah hal yang sangat perlu diperhatikan. Hal ini cukup beralasan, karena secara nyata dapat meningkatkan persentase kematian yang berkorelasi langsung dengan profit yang akan didapatkan oleh peternak. Banyak langkah antisipatif yang dapat dilakukan oleh peternak untuk menjawab tantangan ini, seperti pengaturan kepadatan kandang, manajemen litter yang baik, kontrol amonia dan manajemen perkandangan yang tepat.

“Hal yang juga tidak boleh terlewatkan oleh peternak adalah pemberian vitamin pada ayam. Dalam hal ini, peternak juga harus cermat dalam pemilihan produk dan teknis pemberian vitamin. Peternak bisa memilih produk yang dapat bekerja langsung pada sistem pengaturan stres atau biasa dikenal sistem neuroendokrin. Pasalnya banyak produk dijumpai di lapangan yang rata-rata mengatasi gejala simptomatis tetapi tidak langsung menekan pusat dari sistem saraf atau hormonal tersebut ” pungkasnya.

Sumber: poultryindonesia.com