Kualitas pakan sangat ditentukan oleh kualitas bahan pakan yang digunakan. Hal ini cukup beralasan karena kualitas bahan pakan memegang peranan sekitar 70% dalam menentukan kualitas pakan. Oleh karena itu,dibutuhkan langkah strategis dalam menentukan kandungan nutrisi dalam bahan pakan secara cepat dan akurat.

Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. Mubarak Ali, selaku Senior Technical Manager Evonik SEA Ltd., dalam seminar bertajuk “Optimize Feed Cost and Poultry Performance”, yang berlangsung di Hotel Aston, Mojokerto, Jumat (26/5). Seminar hasil kerja sama dari PT Evonik Indonesia dan PT New Hope Indonesia ini merupakan salah satu rangkaian program NH University yang telah rutin dilaksanakan.

Menurut Mubarak, terdapat berbagai macam variasi kandungan nutrisi dalam bahan pakan. Sebagai contoh, jagung Indonesia akan berbeda kandungan nutrisinya bila dibandingkan dengan jagung dari Thailand.

“Ada sejumlah faktor yang akan menyebabkan variasi kandungan nutrisi dalam bahan pakan, seperti asal bahan, cara pemupukan, proses penanaman, penyimpanannya bagaimana, dan sejumlah faktor lain,” tegasnya.

Baca Juga: KTT Halal Asia Pertama Sukses Digelar, Indonesia Optimis Kembangkan Industri Halal

Ia juga bercerita bahwa saat ini terdapat tren pergeseran tujuan dari produsen kedelai. Dimana produsen kedelai lebih senang menggunakan jenis kedelai yang kandungan minyaknya lebih banyak,dibanding lebih banyak proteinnya. Hal ini tak lepas dari fenomena mahalnya harga minyak dari kedelai. Sedangkan di sisi lain, peternak membutuhkan soy bean meal (SBM) untuk kebutuhan protein pakan. Di sisi lain lagi, ayam tidak membutuhkan protein kasar, namun lebih membutuhkan asam amino. Dengan fenomena pergeseran tersebut membuat kandungan protein kasar kedelai turun, apalagi asam aminonya.

Menurut Mubarak, untuk mengatasi variasi ini, maka dibutuhkan langkah untuk menentukan kandungan nutrisi bahan pakan secara akurat, bisa melalui wet lab atau bisa juga dengan NIR. Namun, pemeriksaan wet lab membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lama.

“Untuk pemeriksaan satu sampel, bisa sampai dua minggu, sementara dibutuhkan waktu cepat untuk menentukan kualitas pakan, misal membeli jagung satu truk. Jika harus menunggu dua minggu, maka jagungnya akan habis duluan,” tegasnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan yang lebih cepat yang bisa dilakukan dengan metode NIR. Metode ini bisa memeriksa lebih cepat sehingga memudahkan dalam menentukan keputusan dalam pembelian bahan baku pakan serta membantu formulator menentukan keputusan lebih akurat dalam membuat formulasi pakan.

“Misal, dalam pembelian jagung, ternyata dalam pemeriksaan NIR, kandungan lysine-nya sudah cukup, maka tidak perlu untuk menambahkan feed additive berupa lysine lebih banyak,” tegasnya.

Sumber: poultryindonesia.com