Alatternakayam – Berbagai pemikiran mengemuka antara lain melaksanakan afkir terhadap induk ayam yang dipelihara oleh industri perbibitan dengan berbeda level umur pemeliharaan. Padahal Penulis disini menyadari bahwa semua pihak sudah mengetahui tujuan dalam sebuah bisnis adalah untuk mendapatkan biaya produksi yang seefisien mungkin sehingga produksi DOC pda tingkatan budidaya Grand Parent Stock (GPS) dan Parent Stock (PS) akan berdampak pada hasil akhir yakni DOC yang terjangkau dan harga yang wajar ditingkat peternak.

Persoalan harga livebird di tingkat peternak yang selalu berfluktuasi merupakan masalah yang tetap sama dan terus berulang, namun persoalan yang sama tersebut menjadi semakin berat bagi peternak skala mikro kecil dan menengah karena usaha yang dilaksanakan masih belum banyak mengalami perubahan.

Hal ini tentu menjadi nilai tersendiri bagi pelaku usaha di hulu dalam rangka  memproduksi DOC dengan kualitas yang memenuhi standar SNI dan standar strain dari apa yang breeding budidayakan, dan pada akhirnya perusahan akan mampu mempunyai daya saing serta mampu mengembangkan usahanya.

Saat ini penulis melihat dari beberapa sudut pandang terkait dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh para peternak. Secara global jika melihat perjalanan harga ayam ras di tingkat peternak sejak 3 September 2022, harga ayam di tingkat peternak justru malah tertekan dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Harga livebird dan telur bukannya naik diatas HPP, justru tertekan. Kondisi ini bila dipamati dari sisi keuangan peternak, pasti akan membebani arus kas dari peternak itu sendiri. Bila kita urutkan dari hulu hingga hilir dari para pelaku bisnis di bidang perunggasan, pasti akan ada imbasnya, terutama biaya logistik pakan, angkutan DOC dan livebird dari kandang ke RPHU/TPA.

Jika penulis mencontohkan peternak yang memiliki skala populasi besar, bisa jadi dia memiliki ekspedisi sendiri, atau sudah termasuk ke dalam komponen harga jual dari pakan yang dikeluarkan oleh pabrikan. Biaya ekspedisi sudah barang tentu akan mengalami kenaikan, jika melihat harga awal bahan bakar sebelum kenaikan dan harga setelah kenaikan, naiknya di angka sekitar 30%. Sedangkan jika diperinci lagi, komponen penyusun harga untuk pihak logistik, yang paling besar adalah biaya bahan bakar (sekitar 35-45%). Kalau harga bahan bakar itu naiknya hingga 30%, maka kenaikan harga untuk biaya logistik seharusnya naik hingga 15%.

Kenaikan komponen biaya angkutan tersebut, seharusnya bisa menaikkan harga dari livebird di tingkat peternak. Akan tetapi, faktanya harga di tingkat peternak justru tertekan. Efek samping dari kenaikan BBM seharusnya menaikkan harga livebird maupun karkas, belum lagi dari biaya operasional internal yang menggunakan BBM seperti biaya operasional manajer maupun kendaraan yang digunakan untuk sehari hari juga turut menaikkan biaya produksi.

Kegiatan budidaya pemeliharaan juga tidak terlepas dari penggunaan BBM semisal penghangat untuk masa brooding yang biasanya menggunakan gas, hal ini juga akan mengalami kenaikan biaya operasional bagi para peternak. Maka dari itu, para pelaku budidaya harus betul – betul menghitung secara rinci seberapa besar pengaruh dari kenaikan harga BBM untuk menentukan berapa harga wajar yang harus ditetapkan oleh peternak agar usahanya bisa terus berjalan secara semestinya. Jika hitung – hitungan ini tidak segera diimbangi dengan kenaikan harga livebird, tentu akan sangat berbahaya karena akan menggerogoti arus kas dari peternak itu sendiri.

Dengan demikian para pelaku usaha perunggasan tentunya harus sama – sama melihat perkembangan harga komoditas ayam ras baik di tingkat peternak maupun di tingkat konsumen secra bijak. Selama tiga minggu terakhir bulan September, harga DOC yang dihasilkan breeding menengah dijual oleh pabrikan dibawah harga referensi oleh pemerintah, penyebabnya harga livebird yang jatuh sekali dibawah harga biaya pokok produksi (BPP). Ketika para peternak melakukan Chick in pada periode setelah kenaikan harga BBM, atau pada awal bulan September, maka secara teori pada musim panen di 30 hari mendatang akan terjadi kenaikan harga livebird.

Peningkatan daya beli masyarakat

Terlepas dari tingginya beban biaya produksi dari tingkat hulu hingga budidaya, penulis ingin mengajak para stakeholder di bidang perunggasan untuk dapat berperan serta dalam untuk meningkatkan konsumsi masyarakat akan komoditas ayam dan telur. Meningkatkan daya beli komoditas perunggasan tidak hanya semata – mata dilihat dari Gross Domestic Product (GDP) saja, tetapi harus dilihat dari kacamata teori skala prioritas juga. Menurut teori hirarki kebutuhan dari Maslow, dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh suatu individu, maka individu tersebut akan menyesuaikan anggaran belanjanya sesuai dengan skala prioritas.

Prioritas terpenting dari manusia adalah fisiologis terlebih dahulu, yaitu kebutuhan untuk pangan. Kaitannya dengan tingkat pendapatan masyarakat adalah, semakin tinggi tingkat pendapatan dari masyarakat, maka konsumsi akan kebutuhan mendasar seperti pangan khususnya komoditas perunggasan pasti akan mencapai suatu titik puncak. Alasannya, seperti yang diutarakan oleh teori tadi, semakin besar pendapatan, maka anggaran belanja akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan lain seperti membeli barang diluar kebutuhan primer, maupun memenuhi keinginan akan psikologis tertentu seperti bertamasya ke destinasi wisata baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai contoh untuk masyarakat di wilayah Jabodetabek, ketika memasuki akhir minggu, banyak titik – titik destinasi wisata seperti puncak dan tempat wisata lainnya. Tidak terkecuali juga pusat perbelanjaan yang ramai dipenuhi oleh para pengunjung di wilayah Jabodetabek. Hal ini sangat logis, karena ketika kebutuhan biologis sudah tercukupi, maka individu atau masyarakat tersebut akan memenuhi keinginannya untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Pada titik tersebut, maka konsumsi untuk komoditas pangan khususnya ayam dan telur bisa dikatakan telah optimal. Jadi, naiknya pendapatan suatu masyarakat terutama kelas menengah ke atas, tidak selalu menaikkan konsumsi akan komoditas ayam dan telur.

Saat ini memang masih belum terlalu terasa peningkatan harga di tingkat konsumen karena para peternak hingga pedagang di tingkat konsumen masih dalam proses adaptasi untuk mencari keseimbangan antara biaya produksi dengan harga jual di masyarakat. Para peternak masih harus mencari titik tengah agar livebird dapat diserap oleh bakul maupun masyarakat, namun tetap memerhatikan biaya produksi. Begitu juga para pedagang karkas maupun telur, saat ini sedang terjadi pergolakan bagaimana meramu harga yang pas agar tidak membebani keuangan pedagang, sekaligus mempertahankan daya beli dari masyarakat itu sendiri. Maka dari itu, penyesuaian harga final dari seluruh mata rantai perunggasan, akan terjadi pembukitian di lapangan pada periode Oktober hingga November 2022 mendatang.

Kondisi ini dikuatkan dengan angka partisipasi konsumsi masyarakat pedesaan terhadap komoditas perunggasan yang sangat timpang dengan daerah perkotaan. Angka konsumsi untuk produk unggas di perkotaan memang tinggi, ironinya di sentra produksi untuk tingkat Kabupaten baik broiler maupun layer, masih sangat kecil.

Tantangan manajemen budi daya peternak

Selain dari sisi biaya operasional, penulis juga ingin mewanti – wanti para peternak yang harus mempersiapkan tantangan dalam pemeilharaan yaitu faktor cuaca dan iklim yang cukup ekstrim. Isu global climate change memang benar adanya dan sangat berpengaruh terhadap kegiatan budi daya. Terutama pada periode September hingga Desember 2022 diperkirakan curah hujan akan cukup tinggi di seluruh wilayah Indonesia. Dampaknya, pemanas yang digunakan oleh peternak di masa brooding akan meningkat.

Oleh karenanya, dari level operator, manajer, hingga pemilik kandang harus bijak dalam penggunaan gas supaya bisa selalu mencapai titik optimal dalam penggunaannya. Mengingat gas yang digunakan oleh para peternak juga telah lebih dulu mengalami kenaikan harga dari awal tahun hingga bulan September.

Dengan rekayasa penggunaan kandang yang semakin modern, tentu dibarengi dengan biaya yang tidak sedikit. Penggunaan kandang modern memang mampu mendatangkan efisiensi yang tinggi, namun seefisien apapun tingkat FCR maupun output yang dihasilkan oleh peternak, biaya operasional agar kandang tersebut bisa mencapai pemeliharaan yang optimal juga tidak sedikit. Sehingga jika harga di livebird di tingkat peternak itu selalu berada di bawah HPP, akan sulit bagi peternak untuk bertahan dalam kondisi tersebut, walaupun didukung dengan peralatan modern sekalipun.

Peternak yang tidak menggunakan kandang modern juga bukan berarti tanpa masalah. Walaupun peternak dengan kandang open house memiliki biaya operasional yang lebih rendah dibanding dengan closed house, tetap akan dibayang bayangi permasalahan sulitnya mengejar efisiensi. Karena biaya untuk menjaga suhu di dalam kandang sesuai dengan kenyamanan dari ternak itu lebih sulit jika dibandingkan dengan kandang closed house. Perlu diingat, bahwa kondisi cuata ekstrim dengan rentang suhu terendah dan tertinggi bisa mencapai 10C per harinya, dan akan terus berlangsung hingga bulan Desember.

Penulis juga mengajak agar fokus para peternak kedepannya harus berubah. Tidak hanya dari sekedar budi daya. Perlu diingat bahwa dari sisi biaya operasional kadang tidak diimbangi dengan harga aktualisasi. Mengapa dilapangan banyak sekali closed house yang disewakan, bahkan dijual, padahal semua masyarakat perunggasan yang berkecimpung di bidang budidaya setuju bahwa penggunaan closed house dapat mendatangkan efisiensi yang tinggi.

Sebaliknya, banyak peternak kecil yang memiliki pasar tetap untuk lingkup lokal, mampu bertahan karena memiliki pangsa pasar yang pasti untuk memenuhi pasar lokal di daerahnya. Hal ini disebabkan karena peternak yang memiliki populasi puluhan hingga ratusan ribu tidak diperkuat dengan pasar lokal yang langsung diserap oleh konsumen akhir. Jangan sampai hanya mengandalkan modal besar akhirnya tergiur untuk ikut berusaha di bidang budidaya tanpa betul betul memiliki riset akan kebutuhan pasar di daerahnya.

Masukan bagi pemerintah

Dengan hadirnya pemerintah melalui Bapanas sekiranya mampu ikut berperan dalam menstabilkan komoditas broiler maupun layer dengan memberikan solusi harga yang stbail dan wajar untuk livebird serta menjadikan livebirds sebagai buffer stock untuk karkas beku di tingkat RPHU. Dimana saat harga livebird jatuh maka Bapanas mampu membeli ayam hidup, disimpan, dipotong dan selanjutnya disimpan dalam bentuk beku.

Pada saat harga berada di angka batas atas, produk tersebut akan dilepas kepasar seperti pada saat hari besar keagamaan atau musim liburan sekolah. Kondisi ini tentu saja sesuai dengan tujuan pemerintah agar terjamin kebutuhan bahan pangan pokok masyarakat agar tidak melonjak dan terjaga ketersediannya.

Kita semua mengetahui bahwa saat ini pertarungan harga karkas juga terjadi antar pelaku usaha besar di hilir dan masuk ke pasar karkas beku dan fresh. Hasilnya, tentu akan mudah ditebak antara pemain baru dan pemain lama, yang akan menguasai sektor hulu sampai hilir akan menjadi pelaku unggulan di bisnis ini.

Langkah lain dalam rangka menjamin biaya produksi di tingkat peternak agar stabil, pemerintah dapat bekerja sama dengan BUMN PT Berdikari menyediakan pakan dan DOC dengan harga wajar sehingga akan sangat membantu peternak kemudian dibayar dengan livebird. Harapan akhir adalah harga pakan bisa terjangkau bagi para pelaku usaha budi daya. Seperti kita ketahui bersama bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam BPP dari para peternak, sehingga jika biaya pakan bisa diturunkan, biaya produksi di tingkat peternak juga bisa ikut ditekan.

Selain itu, pemerintah juga sebaiknya selalu memberi ruang bagi publik untuk bisa selalu berdiskusi dengan berbagai stakeholder. Intinya, sebelum masalah yang ditakutkan oleh para pelaku usaha itu terjadi, pemerintah bisa mendengar aspirasi dari masyarakat terutama para peternak. Hal terebut bertujuan agar data dan angka yang diasumsikan oleh pemerintah bisa sesuai dengan angka faktual yang terjadi di lapangan.

Harapannya, dengan ada berbagai info dan himbauan dari pemerintah melalui data yang tepat, terjadi sebuah keseimbangan, dimana para peternak bisa mengatur sendiri sesuai dengan kemapuannya kapan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan produksi.

Sumber: poultryindonesia.com