Alatternakayam – Lahir di Lombok, Mataram dengan nama Putu Dicka Witrayana dan tumbuh besar sebagai putra daerah Mataram. Putu Dicka menghabiskan masa kecilnya dari TK, SD, SMP, hingga SMA di Lombok, yang kemudian pada tahun 2006 ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di kampus UPN Yogyakarta Fakultas Informatika. Dicka juga terbilang dalam mengarungi masa studinya di kampus tersebut tidak terlalu merasa kesulitan karena masa studi yang ia tempuh sama dengan mahasiswa lainnya pada periode tersebut yakni 4 tahun.

Menangis itu cukup saat lahir saja, tapi saat mati kalau bisa dalam kondisi tersenyum namun ditangisi oleh orang lain dan tentunya meninggalkan cerita serta legacy.

“Saat itu saya kuliah mengambil Teknik Informatika di UPN Yogyakarta angkatan 2006 dengan masa studi pas 4 tahun dan nilai ya bisa dibilang memuaskan, di atas 3 lah IPK, tetapi setelah lulus itu saya merasa kurang kompeten di bidang ilmu informatika, mungkin hitungannya saya beruntung lah bisa lulus tepat waktu nilai bagus,” kenang Dicka.

Ada cerita menarik dibalik keputusan panjang hingga akhirnya Ia mengarungi hidup sebagai peternak layer. Dicka bercerita bahwa sebelum ia mengambil kuliah di bidang informatika, Dicka sempat mencoba untuk menjadi Polisi dengan mendaftar ke Akademi Polisi (Akpol). Akan tetapi, dari hasil tes awal, Dicka divonis buta warna, sehingga ia tidak bisa meneruskan impiannya sebagai taruna polisi.

“Sebelum kuliah di Yogyakarta itu saya pernah melamar Akpol, tetapi gugur karena saya buta warna. Oleh sebab itu, saya berterima kasih kepada Tuhan karena diberkati buta warna sehingga akhirnya saya bisa begini seperti sekarang ini (sukses beternak),” papar Dicka.

Pada awal memulai karir, Dicka tidak menyangka sama sekali bahwa masa depannya akan menjadi peternak layer. Setelah ia lulus dari UPN Yogyakarta, ia merasa bahwa ilmu yang Ia miliki di bidang informatika kurang mumpuni dan hal itu membuat tidak percaya diri untuk bersaing di dunia kerja. Maka dari itu, ia merasa perlu untuk menambah ilmu dan wawasannya di bidang lain. Pada akhirnya Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta menjadi tempat Ia berlabuh untuk menimba ilmu.

“Karena pada saat lulus saya tidak kompeten amat sama ilmu Informatika, jadinya saya merasa tidak begitu memiliki skill ketika lulus dan kurang pede untuk bersaing. Akhirnya saya lanjut lagi kuliah S2 di UGM mengambil jurusan Manajemen. Ketika lulus, saya merasa memang ada perubahan dan saat itu saya merasa cukup siap untuk bersaing dan terjun ke dunia kerja, akhirnya di tahun 2013 lulus tadinya mau mengejar perusahaan manufaktur atau multinasional, tetapi setelah mendaftar ke beberapa perusahaan dan lama tidak dipanggil, akhirnya saya bekerja menjadi pegawai bank pelat merah. Padahal dulu saya anti bekerja di bank, tetapi karena job fair yang banyak tawaran dari bank dan udah 6 bulan merasa tidak produktif akhirnya saya berlabuh pada salah satu bank  BUMN yang bisa dibilang bank terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Selama ia menjalani keseharian sebagai bankir profesional dengan daerah penempatan pertamanya di Gianyar, lalu 2 tahun kemudian ia dipindahkan ke Tabanan, Bali. Dari situlah ia sedikit demi sedikit membuat lebih dekat dengan dunia peternakan. Berperan sebagai Priority Banking Officer, ia semakin terpapar dengan kehidupan para peternak dari nasabahnya. Hal tersebut dikarenakan banyak dari nasabah prioritas dari BRI Tabanan bergerak di bidang peternakan khususnya.

“Saat saya bekerja di Bank BRI penempatan pertama di Gianyar Bali, tapi sebelumnya Job Training saya di Kabanjahe Medan, Itu loh dekat gunung Sinabung yang sempat heboh meletus tahun 2013, kurang lebih 8-9 bulan lah disana. Lalu 2 tahun setelah di Gianyar saya ditugaskan ke Tabanan Bali menjadi priority banking officer. Nah saat di sana saya melihat portofolio nasabah di Tabanan itu kok banyak peternaknya,” terangnya.

Lebih lanjut Dicka semakin yakin untuk menjadi peternak karena nasabah prioritas dari tempatnya bekerja, memiliki portofolio keuangan yang mentereng. Ia merasa menjadi peternak bisa meningkatkan ekonomi dari masyarakat, karena ia melihat perputaran uang yang cukup banyak dari bisnis peternakan.

“Ketika saya lihat lebih jauh, banyak nasabah itu memiliki aset yang cukup banyak dari beternak, akhirnya saya kepikiran. Sempat mengobrol-ngobrol dengan peternak yang gede di sana, ketika berbincang ringan dan saya katakana berasal dari Lombok, peternak itu bilang bahwa supply jagung dan dedaknya dari Lombok bahkan jual telurnya pun ke Lombok. Kan jadi kode tuh, seolah-olah ada lampu menyala di dalam otak “tiinnggg” dan berpikir kenapa ga sekalian produksi telurnya di Lombok. Akhirnya saya sering curi-curi waktu jam kerja itu, ceritanya kunjungan nasabah tetapi sekaligus belajar kepada peternak,” ceritanya.

Awal mula beternak ayam petelur

Sempat tidak disetujui oleh orangtuanya karena menjadi pengusaha itu memiliki risiko yang tinggi, orangtua Dicka awalnya tidak mengijinkannya untuk keluar dari pekerjaannya untuk merintis usahanya sendiri di peternakan. Orangtuanya yang memiliki latar belakang sebagai pegawai negeri sipil, menginginkan anaknya agar tetap menjadi karyawan swasta. Tidak hanya orang tua yang saat itu tidak setuju, keluarga lainnya bahkan orang-orang terdekatnya juga mencemooh tekadnya untuk beternak.

“Kalau latar belakang keluarga, ayah itu PNS sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga, yang pengusaha itu hanya Kakek yang bergerak di komoditas beras. Jadi di keluarga saya tidak ada yang berlatar belakang peternakan, jadi usaha beternak layer ini murni dari otak pemikiran saya. Bahkan banyak yang mengolok-olok saya dulu, ya sekolah tinggi-tinggi jauh-jauh, udah bagus kerja berdasi bergengsi kok ujung-ujungnya jadi peternak yang mainannya tai (kotoran)”, tandasnya.

Orangtua dari Dicka berharap bahwasanya anaknya cukup dengan menjadi karyawan agar setidak – tidaknya memiliki kestabilan finansial karena mendapat gaji setiap bulannya, berbeda dengan menjadi pengusaha yang memiliki risiko tinggi, terutama di bidang peternakan. “Arahan untuk menjadi pengusaha itu sama sekali tidak ada. Bahkan ketika saya ingin mengajukan pengunduran diri, sempat didebat bersama orangtua bahkan sampai ke tahap aksi saling diam antara saya dengan orangtua. Padahal jika dilihat dari sumber daya yang ada di Lombok itu memang potensial”.

Pada akhirnya orangtuanya mendukung untuk berwirausaha bahkan mempercayakan sebidang lahan kepada Dicka, untuk bisa dimanfaatkan dalam usaha budi daya ayam ras petelur. Namun Dicka juga mengakui bahwa pada awalnya langkah ia berhenti dari Bank tempatnya bekerja memang terlalu dini, sehingga Ia merasa bahwa keputusan yang telah diambil adalah keliru karena Ia belum memiliki kandang pada saat berhenti bekerja.

“Kebetulan disini orang tua ada lahan, kalau tidak ada lahan saya juga tidak berani. Akhirnya tahun 2017 saya mencoba untuk beternak layer di Lombok. Setelah saya lihat berdasarkan data, NTB khususnya di Lombok ini belum swasembada telur, sehingga telur itu masih banyak didatangkan dari luar daerah. Maka dari itu saya melihat peluang, bahan pakannya juga tersedia di Lombok, sehingga kalau kita proses di sini dan jual hasilnya disini artinya ada nilai tambah ketimbang peternak di Bali. Akhirnya 2017 saya langsung resign, tetapi kekeliruan saya adalah resign dahulu baru membuat kandang. Jadi selama pembuatan kandang saya hidup dari sisa tabungan selama bekerja dulu. Itu di tahun pertama populasi saya 2.000 ekor untuk awalan, ya ibarat cek ombak lah. Kurang lebih seperti itu sejarahnya kenapa saya bisa terjun ke peternakan layer,” ungkap Dicka.

Dicka yang mengidolakan pengusaha filantropis Dato Sri Tahir sang pemilik Mayapada Group, dan kesehariannya sering diisi dengan membaca buku dan belajar. Wawasannya yang luas terutama tentang manajerial didapatnya dari sering mengikuti berita dan tulisan dari Warren Buffet.

“Dulu saat saya masih bekerja di Tabanan saya sering bolak-balik pulang ke Lombok, apalagi ketika sudah mau resign saya hampir seminggu sekali pulang ke Lombok, PJKA alias pulang Jumat kembali Ahad. Nah ketika pulang di perjalanan itu saya di kapal selama 4-5 jam ya manfaatkan baca buku dan belajar. Ayah dan kakek saya orang asli Lombok, mungkin saya memiliki keturunan Bali dari orangtua kakek atau buyut saya,” ujarnya.

Berpegang teguh pada prinsip

Menjadi peternak tidak pernah selamanya mulus, ketika pandemi Covid – 19 melanda, tahun 2021 merupakan tahun yang kelam bagi Dicka, juga para peternak di daerah NTB. Namun ia masih tetap gigih dan berjuang untuk peternakan layernya.

“Dari aspek manajemen keuangan, kita berkaca juga dari pelaku usaha, di tahun 2021 ini badai besarnya peternakan, para peternak layer sedang di kondisi titik terendah saat itu, saya rasa banyak yang hancur karena manajemen keuangan yang kacau. Jadi kemarin saya sempat tulis quote juga di media social online saya, warna boleh buta tetapi peluang dan manajemen jangan sampai ikut buta,” ucapnya.

Menurut Dicka, berbisnis di ayam petelur memang lebih stabil dari broiler, dari awal mula perjalanannya di bisnis layer, memang relatif stabil. Namun semenjak Covid–19 melanda komoditas telur juga terdisrupsi.

“Memang dari tahun 2017-2019 kan dibilang stabil ya usaha layer, dibilang untung banyak ya tidak juga tetapi dibilang rugi ya jelas tidak. Hanya saja semenjak tahun 2020, 2021, dan 2022 kondisi usaha layer benar-benar tidak bisa diprediksi. Jadi suka dukanya itu, kita bermain dengan barang hidup jadi kita penuh dengan risiko, seperti 1 kaki kita berpijak di risiko dan 1 kakinya lagi berpijak di peluang. Tetapi risiko itu tidak semata-mata kita ambil saja, melainkan harus kita kelola ya jadi semacam risk management lah. Makanya ketika saya terjun di dunia ayam ini benar-benar ngoyo untuk belajar ayam, jadi waktu tahun pertama saya itu saya pernah 3 bulan tinggal di kandang karena ingin tahu seperti apa sih ayam ini. Dan ingat, salah satu kunci sukses pengusaha itu ada di kegigihan atau persistence, cobalah nonton film The Founder, itu ceritanya tentang sejarah McD dan kegigihannya” jelasnya.

Dicka, pria dua anak yang hobi dengan motor klasik ini juga menceritakan momen menyedihkannya ketika berjuang bertahan saat badai hebat. Ia yang memiliki koleksi motor klasik jenis vespa hampir kehilangan semua koleksinya dikarenakan harus menggadaikannya berikut mobil pribadinya hanya untuk mendapatkan dana segar untuk bertahan.

“Saya ada beberapa vespa yang saya koleksi dari zaman kuliah, itu semua hampir lenyap karena harus saya gadaikan semua biar dapet uang seger untuk bertahan, padahal vespa-vespa itu saya niatin untuk saya wariskan ke anak-anak nantinya, tapi daripada bangkrut ya gadaikan saja dulu lah”, ceritanya.

Dicka memutuskan untuk tetap bertahan karena ia selalu memikirkan setiap karyawan yang mencari nafkah bersama – sama dengannya, dan meyakini bahwa sebesar apapun badai pasti akan berlalu kemudian muncul pelangi yang indah. Ia selalu teringat atas nasihat dari pamannya yang tinggal di Bali, bahwasanya jangan pernah memotong hak atau merampas hak orang lain.

“Pada tahun 2021 kemarin pas lagi hancur-hancurnya itu, saya dulu sempat membatin ketika melihat teman-teman peternak sudah mulai afkir muda ayamnya dan menunda pembayaran hak karyawannya, bahkan ada yang melakukan PHK terhadap tenaga kerjanya karena sudah tidak tahan dengan badai dan tidak sabar menunggu pelangi tiba. Saya berprinsip bahwa jangan sampai saya terlambat membayar gaji tenaga kerja apalagi kalau saya melakukan PHK. Jadi pesan paman saya di Bali ‘jangan pernah memotong haknya orang lain atau merampas haknya orang lain’, Maka saya berprinsip, sejahterakanlah karyawanmu maka kesejahteraan akan datang kembali pada dirimu,” pesannya kepada masyarakat.

Sumber: poultryindonesia.com