Alatternakayam – Produk protein hewani unggas seperti daging ayam dan telur memiliki nilai gizi yang tinggi dan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Inilah alasan mengapa perunggasan merupakan komoditas strategis pangan nasional.

Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian, Pujo Setio menerangkan bahwa perunggasan merupakan kelompok komoditas yang memiliki kontribusi di subsektor peternakan. Subsektor peternakan memiliki kontribusi di sektor pertanian pangan. Kemudian pertanian memiliki kontribusi ke pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Kita cukup optimis melihat target dan peluang ke depan, maka ke bawah juga harus optimis untuk mendorong pencapaian target nasional. Sehingga setiap segmen, sektor, dan subsektor harus diselesaikan, baik oleh kementerian lembaga terkait langsung maupun dengan kolaborasi. Mana yang harus kita isi, sehingga pemerintah akan mendorong pertama hal-hal yang sifatnya sudah ada atau konvensional coba dilakukan revitalisasi,” kata Pujo pada Redaksi TROBOS Livestock pada Selasa lalu (23/1).

Menurutnya, ini sangat erat sekali dengan program pemerintah di 2024, sehingga ketika revitalisasi dapat meningkatkan kapasitas produksi. Saat meningkatkan produksi, pasti kebutuhan nasional terpenuhi bahkan bisa sampai ekspor. Kedua, tentunya industri perunggasan ini harus dilakukan secara smart.

Adapun smart itu ada bermacam-macam polanya, yakni yang tadinya sifatnya tidak efektif, diefektifkan dan yang tidak efisien, diefisienkan. “Kemudian kita memanfaatkan semua teknologi, termasuk teknologi pakan, bahkan teknologi digital sampai ke bagaimana memanfaatkan AI (artificial intelligence). Adapun yang bisa cepat menerimanya adalah peternakan modern, karena pertama terintegrasi yang mendorong percepatan produksi dengan kualitas yang memenuhi persyaratan standar, baik nasional maupun internasional,” sebut dia.

Selanjutnya, traceability-nya (keterlacakan) bisa dipertanggungjawabkan, maka akan mudah untuk diekspor. Pujo menilai, pasar Indonesia ke depan ini cukup luas, sehingga mutu dan traceability harus dikuatkan. Ketiga, sinergi hulu hilir, artinya ketika berbicara hulu harus menangkap hilirnya seperti apa.

“Kita ingin semua komoditas pangan itu ada hilirisasi. Kenapa hilirisasi penting? Karena ketika kita berbicara komoditas pangan, itu barang yang cepat rusak. Ada food lossfood waste dan penyusutan. Jika tidak dilakukan hilirisasi, maka hal-hal ini kita tidak bisa tekan,” ungkapnya.

Ketika dilakukan hilirisasi, atau ada pengolahan maka pertama akan meningkatkan kualitas. Jika seandainya memang di sana membutuhkan fortifikasi atau pengayaan mineral, bisa dilakukan sehingga sesuai dengan kebutuhan kesehatan atau standar kesehatan masyarakat, dan pencegahan stunting bisa dilakukan. Kedua, distribusinya akan lebih mudah karena dengan produk olahan, bisa ditekan volumetriknya. Di mana yang tadinya membutuhkan misalnya 100 ekor masuk dengan kemasan besar, tetapi dengan olahan jika dikonversikan mungkin bisa 1.000 ekor, sehingga tidak ada food waste.

Kemudian, hilirisasi ini penting karena kaitannya dengan daya tahan. “Negara kita adalah negara kepulauan, jaraknya jauh sekali dari Sabang sampai Merauke, sehingga ketika kita distribusikan bahan pangan segar pasti banyak kendala. Apabila bentukna olahan, setidaknya daya simpannya panjang, sehingga ketika ada masalah kerawanan pangan, maka pangan olahan menjadi salah satu alternatif,” tandas Pujo.

Kendati demikian, perlu ada insentif viskal guna menghubungkan hulu sampai hilir. Di sinilah nanti peran pemrintah bagaimana mendorong hulu hilir berjalan, sehingga hulu akan memproduksi apa yang dibutuhkan hilir. Hilir memberikan spek dan juga volume berapa yang dibutuhkan, sehingga hulu siap melakukan. Kemudian perlu dikakukan klasterisasi sentra-sentra produksi

“Kita coba dekatkan pada produksi dan sentra konsumsi. Tetapi juga sentra produksi harus didekatkan dengan sentra bahan baku, sehingga ke depannya kita akan memiliki pusat-pusat logistik yang lebih banyak di Indonesia. Saya yakin dengan cara-cara seperti itu, kita bisa mencapai Indonesia Emas 2045. Kemudian kita bisa swasembada pangan, dan bahkan kedaulatan pangan bisa terjangkau,” pungkas Pujo mengakhiri.bella

Sumber: troboslivestock.com