Upaya Penataan dan Strategi Pembangungan Perunggasan Jawa Barat

Upaya Penataan dan Strategi Pembangungan Perunggasan Jawa Barat

Alatternakayam – Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia yang juga akan terus berkembang, Jawa Barat tentu selalu diiringi dengan kebutuhan pangan yang semakin meningkat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani juga akan meningkatkan permintaan terhadap produk perunggasan baik daging ayam maupun telur.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga terus mendorong para pelaku usaha atau calon pengusaha baru untuk terjun dalam budi daya ayam petelur, karena sejauh ini kebutuhannya tidak tercukupi dan harus mendatangkan dari luar daerah. Mencontoh dari Blitar (Jawa Timur) yang memiliki sumber daya jagung sebagai penunjang peternakan layernya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berencana untuk meningkatakan populasi ayam petelur dengan membuat corn belt di beberapa daerah yang disertai pengembangan pengelolaannya dengan Nagreg sebagai pusat pengembangan jagung. Rencananya pembuatan corn belt ini akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian.

Berbanding terbalik dengan produksi telur, produksi broiler justru mengalami surplus produksi. Saat diwawancarai Poultry Indonesia, Jum’at (9/8), Ir. H. Koesmayadi Tatang Padmadinata selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat mengatakan bahwa daerah Ciamis dan Tasikmalaya saja sudah menyumbangkan 1 juta ekor broiler dan 800 ribu ekor pejantan (layer jantan) per minggunya, sehingga untuk masalah kebutuhan daging ayam sudah lebih dari cukup.

Masih menurut Koesmayadi, untuk mengatasi masalah kebelihan produksi broiler di Jawa Barat, pembangunan gudang pendingin (cold storage) dapat menjadi alternatif untuk mengantisipasi fluktuasi harga ayam di Jawa Barat, termasuk pasokan ayam di daerah produsen dan konsumen yang ternyata juga fluktuasi harga itu dipengaruhi dengan adanya kemacetan. “Saya ingat ketika beberapa hari menjelang Lebaran, saya sedang menunggu Bapak Ridwan Kamil (gubernur) datang ke Pasar Muncang Bandung. Sambil menunggu kurang lebih 2 jam, saya lakukan inpeksi ke pasar, itu harga ayam di pasar bisa 4 kali naik hanya dalam waktu 4 jam. Saya mencari tahu kenapa, ternyata karena ada kemacetan di jalan sehingga pasokan terganggu,” ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, ia berpikir bahwa gudang pendingin memang diperlukan untuk menjaga stok sehingga harga di pasar juga bisa lebih stabil. Berdasarkan penuturannya, bahkan peternak di daerah Ciamis juga sempat meminta padanya untuk membangun dua gudang cold storage yang berkapasitas 400 ton untuk membantu mengantisipasi masalah fluktuasi harga yang terjadi di Jawa Barat.

Dr. Ir. Rochadi Tawaf, MS selaku Staf Ahli Pokja Jawa Barat yang saat itu mendampingi Koesmayadi dalam sesi wawancara, juga menyetujui bahwa diperlukan pengadaan cold storage di wilayah produsen broiler seperti Kabupaten Ciamis. Masalah di perunggasan saat ini selalu berkaitan dengan masalah kelebihan produksi yang imbasnya kepada anjloknya harga di pasaran. Oleh karena itu, sudah seharusnya gudang pendingin ini diperbanyak di berbagai daerah terutama di lumbung-lumbung produksi. “Di Ciamis memang sudah ada RPA, hanya saja infrastruktur gudangnya yang belum banyak. Kalaupun ada relatif kecil, mungkin tidak memadai tatkala terjadi fluktuasi,” imbuhnya. Esti, Farid