Mahasiswa Peternakan Gelar Konsolidasi Nasional

Mahasiswa Peternakan Gelar Konsolidasi Nasional

Alatternakayam – Mahasiswa yang merupakan Agent of Change yang berperan sebagai ikon perubahan ke arah yang lebih baik menjadi suatu hal yang seolah tak pernah surut. Merasa keadaan industri perunggasan tidak sedang baik-baik saja, para mahasiswa peternakan gelar konsolidasi nasional pada Senin, (2/8). Acara yang bertajuk Menyatukan Gerakan Mahasiswa Seluruh Indonesia ini, diinisiasi oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Padjadjaran (UNPAD), BEM Fapet Institut Pertanian Bogor (IPB), BEM Fapet Universitas Gadjah Mada (UGM), BEM Fapet Universitas Brawijaya (UB), dan BEM Fapet Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

Muhammad Firdaus Susanto, yang merupakan perwakilan BEM Fapet UNPAD mengatakan bahwa 12 tahun terakhir ini kondisi perunggasaan sedang tidak kondusif, sehingga perlu adanya aksi yang konkrit.

“Sudah saatnya mahasiswa peternakan bergerak, kita perlu mewujudkan perunggasan yang berkeadilan. Saat ini terjadi keadaan yang jomplang antara peternak mandiri dan peternak yang terintegrasi, karena mereka bersaing di sektor yang sama, peran pemerintah sebagai wasit perlu benar-benar diimplementasikan dengan baik,” tutur Firdaus.

Menurut Firdaus, perlu segmentasi yang jelas antara peternak mandiri dan para perusahaan integrasi. Terkait harga yang tak kunjung membaik, menurut Firdaus perlu adanya solusi dari Presiden untuk mengeluarkan Keppres (Keputusan Presiden) yang mewajibkan seluruh Kementerian terkait perunggasan untuk melindungi peternak dari fluktuasi harga. Tak hanya sampai disitu, Firdaus mengatakan bahwa perlu adanya aturan yang jelas agar harga sapronak dan hasil ternak tak melulu merugikan para peternak kecil.

Senada dengan itu, Putra Dwi Nugroho selaku perwakilan BEM Fapet UB mengatakan harga livebird yang tak kunjung membaik akibat oversupply ini sebenarnya salah satunya karena konsumsi produk daging ayam Indonesia termasuk dalam kategori rendah.

“Saya berharap pemerintah bisa mengatasi permasalahan harga ini, dimulai dari peningkatan konsumsi masyarakat kita. Kalau kita lihat di daerah-daerah angka stunting cukup tinggi. Sehingga jika pemerintah lebih fokus kesana, harapannya angka stunting kita membaik, dan konsumsi produk unggas kita juga ikut naik,” ucap Putra.

Putra menambahkan bahwa adanya permasalahan-permasalahan ini, timbul karena adanya kebijakan-kebijakan yang tidak dilakukan dengan semestinya oleh para stakeholders di perunggasan. Ia berharap perlu adanya regulasi dari pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk bisa mengakomodasi seluruh proses dari hulu hingga hilir di sektor perunggasan ini, agar perusahaan integrator tetap pada rel-nya, dan para peternak mandiri juga bisa berjalan sesuai jalannya. Sehingga nantinya semuanya bisa berjalan beriringan.

Sumber: poultryindonesia.com