Koperasi Peternak Ayam Petelur Tingkatkan Daya Saing

Sumber Gambar: http://www.trobos.com
Alatternakayam – Peternak disarankan membentuk kelompok ekonomi seperti lembaga koperasi agar lebih berdaya saing dan punya posisi tawar dalam mengembangkan usahanya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita menyarankan hal itu untuk mengatasi penurunan harga telur ayam ras di tingkat peternak karena kelebihan pasokan, serta keluhan biaya produksi yang tinggi akibat harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan yang tinggi. Saran itu diberikannya pada dialog bersama 140 peternak layer di Pendopo Kabupaten Blitar awal Oktober lalu.
“Kami sarankan agar para peternak bersatu dalam wadah koperasi. Hal ini untuk memudahkan kami dalam memfasilitasi peternak untuk mendapatkan DOC secara langsung dari perusahaan pembibit (breeder/integrator), sehingga harganya standar normal,” terang I Ketut Diarmita di Jakarta pada Sabtu (06/10).
Ketut membantah bahwa harga DOC mahal karena kelangkaan. Menurutnya, berdasarkan data yang ada, produksi bibit ayam petelur (DOC FS Layer) dari Januari-Agustus 2018 rata-rata per bulan sebanyak 14.831.383 ekor dan bibit ayam pedaging (DOC FS Broiler) rata-rata per bulan sebanyak 243.250.971 ekor atau per minggu sebanyak 57.916.898 ekor. Pasokan justru sangat berlebih dan karenanya dilakukan eskpor ke beberapa negara.
“Kita sudah ekspor DOC ke Timor Leste, telur ayam tetas ke Myanmar, daging ayam olahan ke Jepang, PNG dan Myanmar. Ekspor ini yang harus kita tambah dan perluas negaranya, sehingga dapat menghasilkan devisa untuk negara,” tandasnya.
Menurutnya, ada kemungkinan peternak ordernya sendiri-sendiri dan dengan jumlah yang sedikit, sehingga sulit untuk dilayani langsung dan akhirnya mendapatkan DOC dengan harga tinggi karena sudah dari tangan/pihak ketiga. Apalagi setelah dilakukan pengecekan harga DOC ditingkat pembibit masih standar normal.
Ketut mmengakui peternakan ayam petelur sudah menjadi urat nadi bagi perekonomian Kabupaten Blitar, karena merupakan daerah terbesar di Indonesia dalam menghasilkan telur ayam ras. Nasib peternak ayam petelur tentunya harus diperjuangkan. “Kita akan ambil sikap bersama agar peternak tidak rugi. Apa yang menjadi keluhan peternak soal kesulitan mendapatkan DOC kita carikan jalan keluar, agar biaya produksi itu turun, dan peternak bisa bersaing,” tegas Dirjen PKH.
Terkait dengan upaya memenuhi kebutuhan jagung untuk pakan ternak, I Ketut Diarmita meminta kepada Pemerintah Kabupaten Blitar untuk memanfaatkan lahan-lahan pemerintah yang masih belum produktif untuk ditanami jagung. “Penanaman jagung ini bisa juga dilakukan oleh BUMD, sehingga dapat menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang pada akhirnya juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Blitar,” ungkapnya
Ketut berpendapat kelebihan pasokan telur kali ini semestinya ditanggapi dengan positif, karena lebih baik kelebihan pasokan daripada kekurangan. Solusi paling nyata adalah dengan terus mendorong pelaku usaha untuk terus meningkatkan ekspor. Juga mendorong kerjasama antara produsen telur dengan daerah. Sebagaimana kerjasama yang telah berjalan antara peternak Blitar dengan Pemerintah DKI Jakarta