Ilmuwan Gelar Diskusi untuk Mengurai Benang Kusut Industri Perunggasan

Ilmuwan Gelar Diskusi untuk Mengurai Benang Kusut Industri Perunggasan

Alatternakayam – Salah satu komoditas ternak paling strategis dalam upaya pembangunan sumber daya manusia adalah ayam ras pedaging. Keberlanjutan ketersediaan dan keterjangkauan membuat daging ayam banyak digemari oleh masyarakat Indonesia.

Hal tersebut juga dibarengi dengan perkembangan yang sangat pesat pada industri ayam ras pedaging ini. Namun, di tengah potensi dan perkembangannya, masalah klasik kelebihan populasi yang membuat harga ayam seringkali jatuh menjadi tantangan dan pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan.

Melihat hal tersebut, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Pusat Kajian Pertanian Pangan & Advokasi (Pataka) dan IPB University berinisiasi untuk mengadakan seminar virtual dengan tema “Kebijakan Berbasis Evidence dalam Industri Unggas,” melalui aplikasi Zoom, Selasa (26/1).

Dalam sambutannya, Ketua AIPI, Prof. Dr. Satryo Soemantri Bojonegoro menyampaikan bahwa perkembangan populasi ayam ras pedaging yang dimulai sejak tahun 1970-an sangatlah pesat seiring dengan besarnya potensi yang ada. Namun kondisi carut marut yang telah terjadi cukup lama dengan masalah utama kelebihan populasi masih saja terjadi.

Berdasarkan analisis dari tim supply demand Kementan RI , pada tahun 2020 terjadi kelebihan populasi DOC sekitar 8 juta per bulan.

“Banyak sumber menerbitkan data bahwa sekitar 70 – 80 persen DOC disediakan oleh perusahaan besar dengan menerapkan kemitraan inti plasma untuk melakukan budi daya final stock nya. Hal ini menyebabkan peternakan ayam final stock skala kecil gulung tikar, karena persaingan yang tidak seimbang antara perusahaan besar dan peternak kecil,” ujarnya.

Dirinya menambahkan bahwa terdapat benang kusut yang harus diurai agar komoditas strategis ini dapat memberikan kebermanfaatan untuk konsumen serta memberi peluang usaha yang berkelanjutan untuk para peternak.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Muladno Basar, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa masih terdapat krisis kepercayaan dalam industri perunggasan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan berulang kalinya terjadi perbedaan data-data penting yang dikeluarkan oleh berbagai stakeholder.

“Untuk mengurai permasalahan yang sering terjadi di perunggasan, kita perlu adanya kemauan dan keputusan politik dari negara minimal dengan adanya penerbitan Peraturan Presiden RI yang bersifat komprehensif . Selain itu diperlukan komitmen dari seluruh pelaku usaha untuk bersatu dalam menghadapi tantangan global,” tegasnya.

Muladno juga menambahkan untuk para peternak mandiri, diperlukan konsolidasi untuk membentuk sebuah wadah kolektif berjamaah dan mewujudkan sistem usaha integrasi horizontal.

Pada kesempatan yang sama, Ir. Achmad Dawami, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menegaskan bahwa inti dari permasalahan yang sedang terjadi di perunggasan adalah pengawasan terhadap strategi yang sedang dilakukan.

“Selama ini kita selalu memonitor sisi produksi saja, namun tidak pernah berbuat di ranah konsumsi. Kita harus menentukan target konsumsi terlebih dahulu, baru bagaimana cara menyeimbangkan tingkat konsumsi dan produksi yang terjadi, serta juga terus memonitor target konsumsi tersebut dengan berbagai cara seperti melakukan promosi kampanye gizi dan lain sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut dengan fenomena yang ada saat ini, ia mengusulkan bagi para peternak untuk segera melakukan cutting distribution channel.

Sementara itu, Dr. Herdiat Sunarya, Bupati Ciamis yang diwakili oleh Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan, Dr. Toto Marwoto menjelaskan bahwa masih terdapat beberapa permasalahan yang terjadi di sektor perunggasan Kabupaten Ciamis.

“Terjadi permasalahan kondisi kandang peternak rakyat yang sudah tidak memenuhi persyaratan teknis sehingga yang menyebabkan usaha menjadi tidak efisien. Selain itu Harga hasil produksi sering tidak sebanding dengan biaya produksi serta belum dimilikinya sarana yang memadai (khususnya rumah potong ayam dan cold storage) yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas harga,” terangnya.

Toto menegaskan bahwa dari berbagai masalah yang terjadi, pemerintah Kabupaten Ciamis terus berupaya dan berkomitmen kuat untuk mengurai benang kusut industri perunggasan ini.