Belajar Dari Pengalaman Negara Lain

Belajar Dari Pengalaman Negara Lain

Alatternakayam – Indonesia sebaiknya belajar dari negara penghasil daging ayam utama di dunia sehingga tidak terjebak dalam usaha pengaturan harga. Penghasil utama ayam di dunia adalah Brasil dan Amerika Serikat. Terutama Amerika Serikat, industry unggasnya sudah berkembang puluhan tahun. Kedua negara ini mempunyai daya saing yang tinggi untuk memproduksi ayam. Hal tersebut ditunjang oleh empat faktor yaitu biaya pakan yang relatif rendah; skala ekonomi yang besar; kondisi usaha yang kondusif terutama diciptakan oleh stakeholder agar usaha dilakukan secara efisien dan pemerintah tidak membebani bisnis mereka; serta penerapan teknologi maju dan yang terpenting usaha perunggasan dikelola secara terintegrasi vertikal.

Usaha yang terintegrasi secara vertikal bukanlah monopoli karena diusahakan oleh banyak perusahaan yang kesemuanya terintegrasi dan mereka bersaing satu dengan yang lainnya. Perusahaan ayam yang terintegrasi mulai dari mempersiapkan bahan pakan (jagung dan bungkil kedele), membuat pabrik pakan, mendirikan perusahaan pembibitan, melakukan kontrak pemeliharaan ayam dengan peternak, memanen dan mengolah ayam, sampai produk ayam dipasarkan baik dalam negeri maupun ekspor.

Perusahaan yang terintegrasi secara vertikal akan berusaha memerhatikan kebutuhan konsumen dan menekan biaya dalam keseluruhan rantai pasok sehingga mampu menghasilkan produk yang bersaing dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Posisi peternak dalam sistim rantai pasok adalah pola kemitraan dengan perusahaan, jadi merupakan bagian dalam sistem industri perunggasan. Peternak mempunyai kandang dan memelihara ayam dengan sistim kontrak. Dengan sistem ini, peternak akan menerima seluruh input produksi (DOC, pakan dan obat-obatan) dengan harga tertentu dan perusahaan akan membeli ayam yang dihasilkan dengan harga tertentu juga.

Dalam sistem kontrak ini, peternak akan dilindungi dari fluktuasi harga input produksi dan harga ayam hidup dan ada jaminan keuntungan bila pemeliharaan dilakukan dengan semestinya, malahan peternak mendapatkan bonus ketika pemeliharaan dilakukan dengan baik sehingga menghasilkan penampilan produksi yang diatas standar. Kontrak usaha dilakukan secara bebas dalam arti, jika peternak tidak menyukai kontrak dengan satu perusahaan, mereka dapat pindah ke perusahaan lain yang sesuai. Pemerintah dalam hal ini tidak ikut campur tangan, tetapi pemerintah dapat mengawasi agar kontrak dilakukan secara berkeadilan dan diikuti dengan benar.

Kemampuan daya saing industri unggas, tidak hanya ada di Brasil atau Amerika Serikat, tetapi juga terjadi di negara tetangga kita baik Thailand, Malaysia bahkan Vietnam juga sudah memulainya. Hampir semua usaha peternakan broiler dikelola oleh perusahaan besar yang dikerjakan terintegrasi secara vertikal. Di antara negara ASEAN, Thailand sudah beberapa dekade mampu mengekspor daging ayamnya ke berbagai negara di dunia.

Negara Thailand dikenal sebagai negara yang industri broilernya mampu bersaing di dunia. Thailand mengekspor 35-40% produk unggasnya ke berbagai negara di dunia (Jepang, Uni Eropa, Timur Tengah dan lain-lain). Kemampuan daya saing ini dibina terus menerus oleh para stakeholder nya dan pemerintahnya sehingga mampu memberikan nilai tambah dalam industri broilernya. Keunggulan Thailand terletak dari kemampuan mengolah daging ayam sehingga mampu bersaing dari segi harga dan kualitas. Perusahaan ayam mampu memenuhi keinginan konsumen di luar negeri. Sebagai contoh ketika pelanggan di Eropa meminta produk ayam yang bebas antibiotika, maka industri broiler Thailand mampu memenuhinya yang dibuktikan dengan “traceability”.

Sekarang, meskipun harga jagung di Thailand sebagai bahan baku utama untuk membuat pakan harganya relatif lebih tinggi dari dunia, Thailand masih mampu menjadi pengeskpor produk broiler utama di dunia karena Thailand menekankan terhadap nilai tambah dari pengolahan daging ayam menjadi produk jadi yang siap masak atau siap makan. Thailand mempunyai cita-cita untuk menjadi “kitchen of the world” artinya pusat untuk membuat produk makanan olahan di dunia. Untuk mencapai hal ini diperlukan waktu yang panjang bukan secara mudah dengan membalikkan tangan atau “instant”.

Di samping Thailand, negara jiran Malaysia ternyata juga mampu menghasilkan daging ayam yang paling rendah di ASEAN meskipun input produksinya berupa pakan hampir semuanya (90%) diimpor dari negara lain. Malaysia mampu menjual daging ayam (karkas) sebesar Rp23.000 per kilogram dibanding Indonesia yang memintakan harga karkas sebesar Rp35.000 di tingkat konsumen (Permendag No. 07/2020) dan memberikan patokan harga broiler hidup sebesar Rp19.000 per kilogram.

Pemerintah Malaysia juga membebaskan impor bahan pakan dari berbagai negara dan mampu memanfaatkan bahan pakan yang paling ekonomis di dunia untuk menghasilkan daging ayam dan telur. Malaysia secara rutin mengekspor ayam ke Singapura dan mengembangkan ekspornya ke negara Timur Tengah. Hampir semua perusahaan daging ayam terintegrasi secara vertikal dan pemeliharaan ayam dilakukan dengan sistem kontrak (pola kemitraan).

Tidak hanya Thailand dan Malaysia, perusahaan unggas di Vietnam baru-baru ini mendirikan “broiler complex” di mana hasil ayamnya ditujukan untuk ekspor. Vietnam mampu bersaing di pasaran internasional dengan membebaskan perusahaan untuk berusaha tanpa hambatan bahkan pemerintahnya mengalokasi lahan untuk komplek pemeliharaan broiler. Pemerintah Vietnam juga membebaskan impor bahan pakan dan mengizinkan usaha broiler terpadu dengan tujuan ekspor.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Belajar dari negara lain yang sudah lebih dahulu menghasilkan daging ayam dan bersaing di dunia yang dibuktikan dengan ekspor, maka Indonesia seharusnya juga dapat bersaing dengan negara ASEAN lainya karena industri unggas kita yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun. Indonesia harus melihat wawasan yang lebih luas dan belum terlambat untuk belajar dan berubah untuk memperbaiki industri perunggasan saat ini.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah pertama meningkatkan efisiensi industri unggas dengan mendorong usaha terintegrasi secara vertikal. Perusahaan peternakan ayam yang terfragmentasi didorong untuk menjadi perusahaan terintegrasi dengan tujuan menghasilkan produk ayam yang dibutuhkan konsumen.

Kedua, peternak didorong untuk bergabung dengan perusahaan terintegrasi dalam bentuk kemitraan. Peternak dapat dibantu oleh pemerintah dan atau perusahaan agar mulai menerapkan teknologi maju dalam pemeliharaan ayam, misalnya dengan mendirikan “closed house” (kandang tertutup) yang mampu meningkatkan efisiensi produksi. Jika perlu maka peternak diberikan kredit lunak untuk membangun kandang tertutup agar pendapatannya lebih baik. Kandang tertutup dapat digunakan sebagai jaminan pada bank. Apabila beberapa peternak mampu dan cukup besar skala pemeliharaannya, maka dapat membentuk kelompok dan menciptakan usaha bersama yang terintegrasi secara vertikal dengan pembibitan, pabrik pakan dan rumah potong ayamnya.

Ketiga, sudah saatnya pemerintah mendorong terbentuknya sistem rantai dingin (cold chain) dalam memasarkan produk unggas. Dengan adanya rantai dingin maka keamanan pangan (food safety) dari produk unggas dapat ditingkatkan. Untuk mencapai ini maka rumah potong ayam harus dikembangkan di berbagai daerah sehingga penjualan ayam hidup di pasar dan dipotong di lokasi (pasar becek) akan berkurang.

Keempat, untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dalam memproduksi produk ayam, maka perusahaan terintegrasi harus didorong untuk mengekspor hasil produksinya. Pengembangan ekspor memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, oleh karenanya kita perlu belajar seperti Thailand yang telah berjuang lebih dari 30 tahun agar mampu mengekspor produk unggasnya ke Jepang dan terus dikembangkan ke berbagai negara di dunia.

Indonesia harus memulainya sebelum produk unggas dari negara lain masuk ke Indonesia karena pengelolaan yang kurang efisien. Bila perlu Indonesia juga dapat mengembangkan “broiler complex” seperti yang terjadi di Thailand, Amerika Serikat bahkan Vietnam dengan tujuan hasil produksinya untuk diekspor. Rasanya kemampuan orang Indonesia untuk mengolah daging ayam menjadi produk yang siap masak atau makan, tidak kalah dengan orang Thailand. *Konsultan Teknis, Nutrisi dan Teknologi Pakan