Menilik Peternak Broiler di Riau

Menilik Peternak Broiler di Riau

Sumber Gambar: troboslivestock.com

Alatternakayam – Siapa yang tidak kenal Riau, Provinsi yang berada di bagian tengah pulau Sumatera ini sekarang merupakan salah satu sentra bisnis ayam pedaging (broiler) yang mulai ramai peminat. Menurut data yang dikeluarkan Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2018, tercatat sebanyak lebih dari 48 juta ekor ayam pedaging diternakkan di Riau. Jumlahnya pun terpantau meningkat dibandingkan 2014 yang populasinya hanya 39 juta ekor. Hal ini tentunya menjadi nilai positif bagi Riau untuk bisa menjadi salah satu sentra produksi ayam pedaging di Indonesia yang berada di wilayah pulau Sumatra, selain Lampung dan Sumatra Utara.

Mantan Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Kabupaten Kampar, Riau, Indra Noval mengatakan pada 2000 populasi broiler di Kampar hanya berjumlah sekitar 2 juta ekor. Namun  Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar membuat program dana bergilir, yakni dengan memberikan dana sebesar Rp 45.000.000 kepada masing-masing peternak untuk biaya pembangunan kandang, peralatan kandang, dan sedikit jaminan ke perusahaan integrasi. “Dengan adanya program itu, peternak broiler di Kampar mulai berkembang populasinya,” cetusnya.

Namun, sambungnya peternak broiler di Riau harus gigit jari menahan rugi akibat virus flu burung yang mewabah pada 2004. “Dari awal 2000 hingga 2003 peternak broiler bisa tersenyum manis. Tapi, sejak ada kasus flu burung tersebut, kondisi peternak goyang akibat permintaan anjlok,” ungkap Indra.

Sependapat dengan Indra, peternak broiler asal Riau lainnya, Jenti memaparkan jika flu burung yang membuat para peternak ayam pedagingt mengalami kondisi buruk. “Hanya saja, pada waktu itu kami mempunyai waktu 70 hari agar bisa pulih lagi,” kata wanita yang beternak broiler di Pekanbaru, Riau ini.

Memasuki 2008 hingga 2012, peternak broiler di Riau kembali menggeliat dan bersemangat dalam menjalankan usahanya. Sebelum akhirnya, terjadi seleksi alam. Banyak peternak yang memilih untuk menutup usahanya karena terlalu sering merugi.

Sejak beternak pada 1996, Jenti menilik beternak broiler sebagai suatu usaha yang padat karya. Broiler merupakan sektor peternakan yang paling berprosepek karena memiliki rentang waktu pemeliharaan yang relatif singkat. “Jadi, otomatis banyak masyarakat yang beternak ayam pedaging dan cukup menggantungkan hidupnya dengan menjadi peternak,” tambah wanita asal Medan, Sumatera Utara ini. Ditambah lagi, daging ayam adalah produk pangan yang dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Harga Dibawah HPP

Indra akui pernah menjalankan beternak broiler dengan 2 metode. Pertama, melakukan kemitraan dengan perusahaan integrasi, kemudian 5 tahun terakhir ia memilih untuk beternak secara mandiri karena dirasa lebih menantang dan menjanjikan. “Hanya saja, permasalahan kita sebagai peternak mandiri yaitu harga jual ayam hidup (live bird/LB) tidak menentu. Bahkan, terkadang harga selalu di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga menyebabkan kerugian bagi peternak mandiri,” ujar dia.

Ia menambahkan, harga LB di Riau saat ini berada di angka Rp 16.500 per kg untuk ayam besar dengan bobot 1,9 kg, dan Rp 20.000 per kg untuk ayam kecil yang memiliki bobot 0,9 kg. Sementara itu, HPP yang ada saat ini adalah Rp 18.000 per kg untuk ayam besar dan Rp 19.000 per kg untuk ayam kecil.

Sejak harga LB hancur pada pertengan 2018 silam, sudah banyak peternak yang gulung tikar karena terus merugi. Semestinya, regulasi terkait pakan dan DOC (day old chick/ayam umur sehari) bisa diatur pemerintah. “Ketika perusahaan integrasi memproduksi DOC yang melimpah, sementara permintaan di lapangan tidak banyak maka akan menjadi faktor utama hancurnya harga. Harga ayam hidup bahkan pernah menyentuh Rp 7.000 – 9.000 per kg,” jelasnya.

Baca Juga: Mengurangi Kadar Amonia di Kandang

Sumber: troboslivestock.com