Mengenal Adeno Virus Infection

Mengenal Adeno Virus Infection

Sumber Gambar: poultryindonesia.com

Alatternakayam – Awal tahun 2018, banyak informasi yang menyatakan bahwa broiler atau ayam pedaging banyak yang terkena wabah penyakit virus yang disebut dengan penyakit Inclusion Body Hepatitis, yang mana penyakit itu penyebabnya adalah virus dari keluarga Adeno virus.  Keluarga Virus Adeno (Family Adenoviridae) terbagi dalam tiga golongan.

Hampir semua infeksi Adenovirus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Jengger kelihatan pucat, pial dan kulit muka juga pucat, depresi, lemah dan kemungkinan diikuti dengan penyakit lainnya.

Golongan pertama adalah Grup I yaitu Avian Adenoviruses dari Genus Aviadeno virus yang menyebabkan Fowl Adeno Virus dengan 12 serotypes/5 spesies yang menjadi penyebab penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH), Hydropericardium Syndrome (Angara Diseases, HPS) dan Gizzard Erosion and Proventriculitis. Golongan kedua dari Avian Adenoviruses ini berasal dari Genus Siadenovirus penyebab penyakit Hemorrhagic Enteritis (Turkeys), Marble Spleen Disease (Pheasants) dan Spleenomegaly (Chicken). Golongan ketiga berasal dari Genus Atadeno virus yang menjadi penyebab penyakit Eggs Drop Syndrome (EDS).

Pada kesempatan kali ini akan dibahas dua penyakit yang disebabkan oleh virus dari Family Adenoviridae, Grup I Avian Adenoviruses dari Genus Aviadeno virus, spesies Fowl Adeno Virus yaitu penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH) dan Hydropericardium Hepatitis Syndrome (HPS).

Hydropericardium Hepatitis Syndrome (HPS)

Penyakit ini pada umumnya menyerang broiler yang berumur di bawah 6 minggu. Karakteristik dari serangan penyakit ini adalah adanya kematian yang mendadak dengan tingkat kematian yang sangat tinggi pada kisaran angka 20-70 %.  Ayam yang terserang sindrom ini secara fisik tidak terlihat mengalami penurunan performa, di mana ayam terlihat sehat, pertumbuhan normal dan deplesi pada awalnya normal sebelum adanya kematian mendadak yang sangat tinggi. Kematian yang terjadi dimulai pada saat ayam berumur 13 hari sesaat sebelum ayam diberikan vaksinasi Gumboro/Infectious Bursal Disease.  Kematian terjadi pada umumnya  saat suhu lingkungan mulai dingin yaitu pada malam hari sampai dengan dini hari.

Penyebab penyakit dan sifat-sifatnya

Penyebab penyakit yang sangat menular ini adalah Virus Avian Adenovirus serotype 4 (FAV 4), tidak beramplop berbentuk icosahedral, berukuran 70-90 nm dan mengandung dsDNA linier dengan ukuran sekitar 45 kb sebagai genomnya (Asthana, dkk. Arch Virol. 2013, Pakistan).  Virus stabil pada pemanasan dengan suhu 560 C selama 3 jam, tahan dalam keadaan asam dan zat kimia tertentu misalnya ether dan chloroform.

Virus penyebab penyakit ini tahan terhadap bermacam-macam desinfektan kecuali yang mengandung Formaldehida dan Iodine. Spesies yang rentan dengan penyakit ini adalah ayam muda di bawah 6 minggu, kalkun, burung puyuh, angsa dan itik. Patogenitas tergantung kondisi virus dan inangnya. Ayam muda lebih rentan atau sensitif dari pada ayam yang lebih tua, akan lebih parah serangan penyakitnya bila ada komplikasi dengan penyakit lain seperti Infectious Bursal Disease (Gumboro). Virus tahan terhadap pengaruh lingkungan, tetapi dapat menyebar dengan cepat atau secara mekanik.

Ayam yang terserang syndroma ini secara fisik tidak terlihat mengalami penurunan performa, di mana ayam terlihat sehat, pertumbuhan normal dan deplesi pada awalnya normal sebelum adanya kematian mendadak yang sangat tinggi.  Kematian yang terjadi dimulai pada saat ayam berumur 13 hari sesaat sebelum ayam diberikan vaksinasi Gumboro/Infectious Bursal Disease.  Kematian terjadi pada umumnya  saat suhu lingkungan mulai dingin yaitu pada malam hari sampai dengan dini hari.

Hasil bedah bangkai pada ayam yang mati, ditemukan perubahan organ dengan diawali  adanya bercak darah/ptechiae pada otot paha dan dada yang kemudian hilang pada hari berikutnya (tanda ini seperti layaknya ayam yang terkena gumboro), kebengkakan jantung yang disertai hydro-pericardium yaitu adanya penumpukan cairan dalam kantung pembungkus jantung, ginjal membengkak dan pucat serta Limpa dan Bursa Fabricius mengecil.

Penanganan untuk ayam yang terserang Hydro-pericardium Hepatitis Syndrome ini adalah dengan pemberian multivitamin setiap hari dengan harapan akan membantu menjaga stamina tubuh ayam tetap baik, saat ini banyak sediaan herbal dengan kandungan ekstrak kunyit dan temulawak yang berfungsi sebagai hepatoprotektor akan lebih baik jika juga diberikan. Tidak dianjurkan pemberian antibiotik karena akan memperberat kerja ginjal, dimana ginjal dalam kondisi bengkak.

Tingkatkan sanitasi dengan spray area dan ruang kandang dengan desinfektan yang peka untuk virus Adeno seperti desinfektan yang mengandung formaldehida dan Iodine. Dianjurkan ayam-ayam yang terserang penyakit ini untuk dipanen pada usia muda, yaitu berat antara 0,8-1,2 kilogram agar tidak terlalu banyak mengalami kerugian, karena ayam yang terserang penyakit ini akan mengalami kematian setiap hari di atas normal. *Technical Department PT Mensana Aneka Satwa