Mengadang Bau di Kandang

Mengadang Bau di Kandang

Alatternakayam – Pengaruh amonia terhadap lingkungan menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri perunggasan. Tak hanya itu, amonia yang tinggi di kandang akan sangat merugikan peternak karena menurunkan produksi ayam baik broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur). Kadar amonia yang tinggi di kandang juga memungkinkan terjadinya peningkatan angka kematian akibat berbagai penyakit pernapasan.

Fenomena seperti ini yang dialami Henny Ratna Hutomo, peternak layer di Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar Jawa Timur. Henny yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia ayam ini mengatakan pernah mendapat keluhan dari masyarakat sekitar kandang. Ia mengakui bahwa saat itu feses (kotoran) ayam di kandang menjadi basah dan menimbulkan bau yang menyengat akibat pergantian pakan secara mendadak. Melihat gelagat yang tidak baik, Henny akhirnya mengganti pakan seperti semula dan menambahkan pasir pada kotoran yang basah.

Ia mengungkapkan, semakin tinggi protein dalam pakan, semakin meningkatkan kemungkinan bau dari kotoran ayam. “Tergantung bahan yang dipakai dalam pakan karena ada imbuhan pakan yang bisa menetralisir bau dari kotoran ayam,” ujarnya.

Henny menilai banyak faktor yang menyebabkan bau di kandang. Salah satunya kontruksi kandang yang kurang tepat. Jarak antar kandang harus diperhatikan, setidaknya berjarak 7 meter, dengan ketinggian minimal 2 meter. ”Jarak kandang semakin lebar akan semakin baik. Begitu pula dengan luas kandang yang bergantung dari kepadatan. Selain itu bentuk kandang, A dan M sudah cukup baik. Lokasi peternakan dengan ditumbuhi pepohonan juga dirasa menyejukkan sehingga tampak asri dan sirkulasi udara lebih baik,” jelasnya.

Ini pula yang diyakini Kusno Waluyo, pemilik Sekuntum Farm – peternakan layer yang berlokasi di Desa Tanjung Kesuma, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Menurutnya, peternak harus menciptakan lingkungan kandang yang asri karena para konsumen atau para penggemar produk peternakan sudah sangat pintar dalam memilih. “Tidak hanya melihat kemasan akhir atau produknya yang bagus namun, konsumen juga melihat tempat produksi dari telur ataupun daging yang dihasilkan dalam hal ini farm (kandang),” ujarnya.

Langkah ini tentu bisa mengedukasi masyarakat untuk mengkonsumsi produk peternakan. “Bukan masalah farm itu besar atau kecil tapi bagaimana membuat farm itu nyaman untuk ayam termasuk operator kandang dan lingkungan di sekitarnya,” tukas Kusno ketika ditemui TROBOS Livestock di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dengan kandang yang asri, Kusno tidak pernah mendapat keluhan bau dari masyarakat sekitar. Justru, masyarakat sangat mendukung karena kehadiran peternakannya sudah membantu menggerakan ekonomi masyarakat sekitar.

Perihal bau kandang, Kusno mengatakan, salah satu faktor penyebabnya adalah cacing. Namun begitu, sejak beternak ayam di 2008 hingga sekarang masalah cacing dapat ditangani dengan baik. “Setiap petugas lapang baik penyuluh maupun dokter hewan melakukan kunjungan rutin, tidak pernah ditemukan cacing karena semuanya kami tangani dengan baik,” kilahnya.

Ia menerangkan, pemakaian herbal dan probiotik yang dicampur di dalam pakan selama ini sangat membantu. “Intinya bagaimana sistem perncernaan ayam bisa berjalan dengan bagus dan bebas parasit, salah satunya cacing,” akunya. Selain itu, sirkulasi kandang dan kenyamanan ayam harus diperhatikan karena ketika ayam merasa nyaman di kandang, udara cukup, makan dan minum terpenuhi secara ad libitum, ayam akan sehat, tidak mudah terserang penyakit sehingga kandang bebas dari bau.

Proses Terbentuknya Amonia
Bau pada kandang berkaitan erat dengan unsur nitrogen dan sulfur yang terkandung pada feses ayam. Bau pada kandang timbul karena adanya proses dekomposisi feses oleh mikroorgananisme yang membentuk gas amonia (NH3), nitrat (NO3), nitrit (NO2) serta gas sulfida (H2S). Pada ternak ruminansia juga menghasilkan gas methan dari proses pencernaannya. “Kandungan gas-gas tersebutlah yang menyebabkan bau pada kandang,” jelas Research and Technology (RnT) Manager PT Cheil Jedang Indonesia, Mohamad Maghfuri.

Pria yang akrab disapa Ipung ini menerangkan bahwa gas amonia merupakan masalah utama yang menyebabkan bau di kandang. Amonia dapat berbahaya terhadap lingkungan, karena bisa menimbulkan masalah lingkungan seperti hujan asam dan kualitas air. Amonia merupakan senyawa yang tidak berwarna yang larut pada air. Amonia dihasilkan oleh dekomposisi protein (N) pada feses. Kelebihan protein (N) pada unggas akan dieksresikan dalam bentuk asam urat (80 %), amonia (10 %), dan urea (5 %). “Sumber utama amonia bukan berasal dari feses ayam secara langsung. Akan tetapi, penguraian asam urat oleh mikroba (uricolitic) di litter (alas kandang) merupakan sumber utama pembentukan amonia,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa, bakteri utama yang memproduksi amonia adalah Bacillus pasteurii yang tumbuh optimum pada pH sekitar 8,5. Proses dekomposisi asam urat menjadi amonia membutuhkan air dan oksigen. Pada proses dekomposisi asam urat menjadi amonia juga melibatkan beberapa enzim seperti uricase dan urease. “Uricase berfungsi mengurai asam urat menjadi allantoin, yang kemudian dikonversi menjadi glyoxylate dan urea,” urainya. Enzim urease kemudian urea menjadi amonia (NH3) dan gas karbon dioksida (CO2) seperti pada reaksi berikut ini : (C5H4O3N4 + 1.5O2 + 4H2O -> 5CO2 + 4NH3).

Ipung juga mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan amonia antara lain adalah suhu, kadar air, pH, dan kadar nitrogen pada litter atau feses. Kadar air, kelembapan, suhu dan pH berkaitan langsung dengan lingkungan yang dibutuhkan bakteri untuk tumbuh yang mengkonversi asam urat menjadi amonia. “Kadar air, kelembapan dan suhu yang tinggi pada kandang akan meningkatkan aktivitas bakteri dan produksi amonia,” katanya. Secara umum, pH pada feses dan litter berkisar 7,5 sampai 8,5. pH litter > 7 dapat meningkatkan produksi amonia, produksi amonia dapat ditekan pada pH < 7, karena amonia (NH3) akan dikonversi menjadi amonium (NH4+).

Pencemaran amonia dapat menyebabkan terjadinya iritasi dan keracunan. Namun kepekaan setiap individu terhadap amonia berbeda-beda. Menurut Presiden Direktur PT Fenanza Putra Perkasa, Isra’ Noor Karim, pengaruh amonia terhadap ayam dilaporkan pertama kali pada 1950 di Amerika yang menyatakan bahwa amonia menyebabkan peningkatan iritasi mata atau keratokunjungtivitis pada industri peternakan broiler.

Ada beberapa gejala yang ditimbulkan akibat amonia. Amonia dengan kadar 5 ppm, merupakan kadar amonia yang paling rendah dan tercium baunya. Kadar 6 ppm, mulai timbul iritasi pada mukosa mata dan saluran pernapasan. Sementara, jika sudah mulai ada penurunan produktivitas ayam, kadar amonia sudah mencapai 10 – 11 ppm. Kadar maksimum amonia yang dapat ditolerir selama 8 jam adalah 25 ppm. Kadar maksimum amonia yang dapat ditolerir selama 10 jam adalah 35 ppm.

Jika kadar amonia 40 ppm, mulai menyebabkan sakit kepala, mual, hilang nafsu makan pada manusia, dan jika kadar amonia sudah mencapai 50 ppm, akan terjadi penurunan produktivitas ayam, bahkan terjadi pembengkakan pada bursa fabrisius, penurunan nafsu makan pada ayam, dan produksi telur tidak optimal. “Pembengkakan yang terjadi di bursa fabrisius dapat mengindikasikan adanya penyakit Newcastle Disease (ND) dan Gumboro,” sebut Isra. Selain itu, kadar amonia 10 ppm sudah dapat menurunkan ketahanan silia paru-paru dan pada konsentrasi 20 ppm, ayam akan menjadi peka terhadap virus ND dan radang kantong udara.

Ipung menimpali, faktor lain yang mempengaruhi bau di kandang yakni sistem perkandangan (tipe kandang, jenis litter, kepadatan, dan ventilasi kandang). Penggunaan cages (baterai) biasanya menghasilkan bau lebih sedikit dibandingkan sistem kandang dengan litter. Penggunaan baterai dapat menurunkan amonia sampai 50 %. Pada kandang modern juga menggunakan belt yang memudahkan untuk membersihkan feses setiap hari. “Tipe tempat minum juga mempengaruhi bau di kandang. Bau pada kandang dengan menggunakan nipple jauh lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan galon. Hal ini karena penggunaan nipple dapat mengurangi air yang jatuh atau tumpah ke litter,” ungkapnya.

Manajemen litter atau feses adalah metode yang paling umum dan mudah diaplikasikan di kandang. Pada prinsipnya, manajemen litter bertujuan untuk menjaga kondisi litter tetap kering dan tidak lembap sehingga dapat menekan bakteri uricolitic berkembang optimal pada material litter. “Manajemen litter yang dapat dilakukan untuk mengurangi bau amonia adalah mengeluarkan atau membersihkan feses secara rutin, menghindari litter menjadi basah karena kehujanan atau sisa air minum, menyediakan material bedding yang cukup, membolak balik litter supaya tidak menggumpal dan terkena udara,” ucap Ipung.
Pada musim kemarau, level amonia relatif lebih rendah dibandingkan musim penghujan. Kadar amonia pada musim penghujan lebih tinggi karena kondisi feses atau litter basah yang merupakan media optimum untuk bakteri tumbuh. Untuk itu, ketinggian lokasi kandang harus diperhatikan. “Kandang yang lokasinya di daerah perbukitan umumnya kandungan amonianya lebih tinggi dibandingkan kandang yang lokasinya di daerah pesisir,” sebutnya.

Mengundang Lalat
Bau dari amonia yang tinggi, tidak jarang menjadi pemicu hadirnya lalat di kandang. Kehadiran lalat akan memperparah kondisi dari kandang. Bau akan lebih menyengat karena tipikal dari lalat ketika berada di feses akan mengeluarkan saliva yang kemudian dihisap kembali. “Proses keluar masuknya saliva dari lalat inilah yang menyebabkan amonia semakin tinggi,” jelas Hananto PT Bantoro.

Marketing & Technical Manager, PT Novindo Agritech Hutama ini mengatakan, bau yang menyengat karena ada material protein (N) di feses sehingga mengundang lalat untuk datang. Otomatis lalat yang tadinya ada di sekitar kandang, semisal di tempat sampah atau di kandang tetangga yang habis panen akhirnya tertarik untuk masuk ke kandang terutama di feses ayam.

Oleh karenanya, ia menyarankan, menggunakan insektisida untuk membasmi lalat. Namun Hananto menyayangkan sikap peternak yang belum serius menangani hal ini. Tidak sedikit peternak yang menganggap bahwa menambah larvasida di dalam pakan sudah membunuh lalat dewasa. “Padahal tidak. Kalau mengurangi memang betul, karena akumulasi populasi lalat itu sebenarnya pada stadium 1, 2, dan 3 dimana jumlahnya cukup besar 70 – 80 %. Sedangkan lalat dewasa hanya sekitar 20 %,” terangnya.

Untuk itu, jika ingin terbebas dari keduanya, bisa membunuh larva dan lalat dewasa yakni dengan menambahkan larvasida di dalam pakan dan menggunakan insektisida di sekitar kandang. Namun, jangan sampai insektisida disemprot (spray) tepat di feses ayam karena bakteri akan berkembang. “Testimoni kami di lapangan, insektisida akan mendepres/menekan kerja dari larvasida sehingga biasanya Cyromazine yang ditambahkan di dalam pakan tidak efektif lagi karena kerjanya terganggu,” imbuh Hananto.

Mengatasi Amonia
Untuk mengurangi dampak bau yang ditimbulkan dari usaha peternakan ayam dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain memperbaiki ventilasi udara, memberikan imbuhan pakan (feed additive), pemberian ransum dengan asam amino berimbang, serta perlakuan pada litter dengan pemberian fero sulfat dan asam fosfat untuk mengubah pH agar pelepasan amonia berkurang. “Bahan lain yang dapat mengurangi bau amonia dalam kandang adalah penambahan kapur sebanyak 1 – 3 % pada kotoran ayam. Hal ini dapat mengurangi pelepasan gas amonia dan H2S secara nyata,” ujar Isra.

Nutritionist PT Sierad Produce Balaraja, Herlan Noor Rafis berpendapat, bau di kandang banyak disebabkan oleh kandungan amonia yang berlebih, yang dihasilkan oleh feses dari asam urat dan sisa dari protein pakan yang tidak tercerna. Supaya sisa protein yang tidak tercerna bisa diminimalisir, adalah dengan menjaga keseimbangan asam amino pada pakan sesuai dengan kebutuhan ayam pada periode tersebut dan mengurangi level protein pada pakan.

Baca Juga: 3 Tips Menentukan Ukuran Kandang Ayam Broiler

Sumber: http://www.trobos.com