Teknik Formulasi Ransum untuk Efisiensi Produksi

Teknik Formulasi Ransum untuk Efisiensi Produksi

Alatternakayam – Komoditas telur merupakan salah satu komoditas dengan berbagai macam keunggulan, diantaranya memiliki nilai nutrisi yang tinggi, bisa didapatkan di mana saja, dan harga yang sangat terjangkau. Telur konsumsi yang beredar di masyarakat merupakan hasil dari sebuah kegiatan usaha budi daya yang dilakukan oleh para peternak. Kegiatan budi daya tersebut tentu disokong oleh manajemen pemeliharaan yang baik dan efisien dengan tujuan agar telur yang dihasilkan bisa sesuai dengan keinginan konsumen, sekaligus memberikan pundi-pundi keuntungan bagi peternak dan setiap pelaku yang terlibat di dalamnya.

Penerapan kegiatan budi daya yang efektif dan efisien melalui formulasi ransum alternatif dapat menjadi solusi dari tantangan yang dihadapi para peternak agar usaha budi daya yang dijalankan bisa berdaya saing sekaligus menguntungkan bagi pelaku yang terlibat di dalamnya. Berangkat dari hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry TechniClass seri ke-2 bertemakan, ‘Teknik Formulasi Ransum Pakan Layer’, secara virtual via Zoom, Sabtu (20/8).

Tema ini menjadi hal yang menarik dibahas dimana Indonesia membutuhkan sumber protein hewani untuk memenuhi gizi masyarakat. Apalagi, sumber protein hewani saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari berbagai macam penyakit, termasuk COVID-19. Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja M.S., M.App.Sc selaku Nutrition and Feed Technology Specialist sekaligus Konsultan Teknis USSEC Indonesia dan Dr. Zafar Iqbal selaku Animal Nutrition and Health Specialist PT DSM.

Guna melakukan formulasi pakan, peternak perlu mengetahui apa yang ternak mereka butuhkan, sehingga para peternak tahu pakan seperti apa yang harus diberikan kepada ternaknya. Budi memaparkan presentasinya mengenai Teknik formulasi ransum petelur. Ketersediaan pakan pada peternakan ayam petelur bisa didapatkan dengan membeli pakan komplit, membeli pakan dengan campuran konsentrat jagung dan dedak padi, atau meracik pakan sendiri dengan metode self-mixing.

”Formulasi adalah perhitungan matematis untuk mendapatkan harga formula yang paling murah. Sangat penting untuk mengetahui di balik angka tersebut,” ujar Budi.

Data yang dibutuhkan untuk formulasi pakan ayam petelur antara lain, mempersiapkan data bahan baku, kebutuhan gizi, serta jumlah minimum dan maksimum atau batasan gizi dan batasan penggunaan bahan baku. Data kualitas bahan baku lokal sangat bervariasi, oleh sebab itu dibutuhkan program quality control.

”Batasan gizi pun harus memenuhi kebutuhan ayam sesuai usia ayam tersebut. Gizi yang diberikan harus fleksibel, jangan berkutat pada angka itu saja. Kandungan gizi yang dibutuhkan ada lebih dari 30, sedangkan yang esensial ada 15 gizi yang harus dipertimbangkan. Terutama di petelur ada pertimbangan kalsium dan fosfor,” tutur Budi.

Dr. Zafar Iqbal, PhD pada paparannya menyampaikan jika manajemen mutu pakan yang baik dapat meningkatkan efisiensi produksi, salah satunya dengan optimalisasi Metabolizable Energy (ME). Pada dasarnya, energi sendiri tidak masuk ke dalam kategori nutrisi, melainkan properti atau alat yang digunakan oleh nutrisi penghasil energi saat nutrisi tersebut teroksidasi selama metabolisme. Metabolizable Energy (ME) merupakan energi bersih yang tersisa setelah proses pembuangan energi melalui tinja dan urin.

Lebih lanjut lagi, Zafar menjelaskan mengenai Non-Starch Polysaccharides atau NSP, yang dapat bertindak sebagai Anti-Nutritional Factors (ANF), dimana efeknya dapat berupa mengikat nutrisi yang kemudian menyebabkan gangguan pada asupan pakan ternak.

“Kurangnya nutrisi yang diserap menyebabkan mudahnya bakteri dan gangguan pencernaan lainnya untuk menyerang unggas. Salah satu efeknya dapat berupa telur yang kotor akibat lantai kandang yang tercemar oleh buangan tinja dan urin yang basah,” jelas Zafar.

Penambahan enzim pada pakan ternak petelur dibutuhkan karena layer tidak memiliki enzim phytase dan NSP untuk menghidrolisis phytate dan NSP. Selain itu, penggunaan enzim juga dapat meningkatkan pencernaan pakan, sehingga penyerapan protein Lebih optimal dan mengurangi viskositas, dimana beberapa Q ini dapat meningkatkan kesehatan dan fungsi saluran pencernaan. Hasil dari penggunaan enzim antara lain peningkatan performans ternak, pengurangan biaya produksi, serta dihasilkannya telur dengan cangkang yang kuat dan bersih.