Proses Persiapan Panen dalam Kandang

Proses Persiapan Panen dalam Kandang

Sumber Gambar: poultryindonesia.com

Alatternakayam – Pemanenan merupakan salah satu kegiatan yang menyempurnakan kegiatan budi daya. Seefisien apapun pakan yang diberikan, sebaik apapun perlakuan peternak pada saat pemeliharaan, proses panen akan menjadi penentu akhir dari pendapatan yang akan didapat oleh peternak. Karena angka-angka estimasi yang sudah dilakukan oleh manajer maupun operator kandang, akan dibuktikan pada saat panen. Apakah hasilnya sesuai dengan prediksi, atau malah meleset dari proyeksi yang telah dilakukan.

Sebelum panen dimulai penanggungjawab kandang harus memastikan ternak yang akan dipanen sudah memasuki withdrawal time yang bertujuan untuk menghindari adanya kemungkinan residu antibiotik yang masih tertinggal dalam karkas maupun jeroan ayam. Jika konsumen memakan ayam yang mengandung residu antibiotik terebut, dikhawatirkan akan terjadi resistensi antibiotik terhadap bakteri yang ada di dalam tubuh manusia yang mengonsumsi ayam tersebut.

Selain itu, jangan berikan pakan kepada ayam sesaat sebelum dipanen untuk menghindari komplain dari pelanggan. Ternak yang diberikan pakan sesaat sebelum panen tentunya akan memiliki bobot yang tinggi saat dilakukan penimbangan. Namun, risikonya adalah susut yang besar ketika terjadi penimbangan ulang di depot atau di RPHU, karena pakan yang dimakan tidak sempat terkonsumsi secara sempurna oleh ayam. Setelah dipotong pun tentunya akan terlihat banyak sekali sisa pakan yang masih berada di tembolok.

Sesuaikan juga kapasitas keranjang pengangkut dengan timbangan ternak. Kapasitas keranjang pengankut ayam dengan dimensi 97x57x28 cm untuk 25 kilogram ayam dengan maksimal populasi per keranjang 25 – 30 ekor. Jika lebih dari itu, maka risiko kematian saat transportasi akan tinggi. Ambil sebuah contoh panen dengan ukuran ayam 1 kilogram, maka maksimum jumlah ekor yang disarankan dalam satu keranjang adalah 25 ekor. Jika kurang dari 1 kilogram, maka jumlah ayam yang bisa masuk ke dalam keranjang bisa ditambah hingga maksimal 30 ekor. Namun jika ukuran ayam lebih dari 1 kilogram, disarankan untuk memuat keranjang tersebut kurang dari 25 ekor ayam.

Semakin besar ukuran ayam membuat ayam sangat rentan dengan cekaman panas saat transportasi. Untuk ayam dengan ukuran 1 kilogram lebih, perlu adanya penyiraman keranjang yang sudah diangkut dalam truk untuk mengurangi panas yang disebabkan oleh sengatan matahari. Maka dari itu, waktu panen yang disarankan adalah sore hingga malam hari, di mana intensitas panas dari matahari sudah menurun, dan suhu lingkungan kandang juga sudah agak menurun. Pemanenan di malam hari mampu menurunkan tingkat stres pada saat proses penangkapan, dan penimbangan ayam di kandang, maupun saat proses pengangkutan ke dalam keranjang.

Panen saat malam hari juga dapat mengurangi kematian akibat cekaman panas lingkungan. Semakin jauh jarak tempuh antara kandang dengan RPHU, maka semakin tinggi risiko ternak terkena cekaman panas. Ternak yang hidup tentunya menghasilkan panas sebagai reaksi metabolisme tubuh. Jika pemanenan dilakukan pagi atau siang hari, maka ternak akan kesulitan untuk melepaskan panas dari tubuhnya ke lingkungan. Hal tersebut menyebabkan stres yang berlebih yang berujung pada kematian. Sopir transportasi angkutan ternak juga sebaiknya menyediakan galon atau jerigen yang berisi air untuk menyiram ayam setiap dua jam sekali jika jarak tempuh antara kandang dengan tempat pemotongan memiliki jarak tempuh lebih dari 2 jam perjalanan. Penyiraman ternak tersebut dipercaya dapat mengurangi kematian akibat adanya cekaman panas oleh terik matahari.

Pemanenan merupakan faktor akhir penentu pundi-pundi pendapatan suatu kegiatan budi daya. Sebagus apapun FCR yang diprediksi sebelum panen, hal itu hanya sebatas angka-angka prediksi yang masih bisa berubah-ubah. Oleh karena itu, pemanenan yang baik akan sangat berpengaruh terhadap seberapa besar keuntungan yang nantinya akan diperoleh peternak, baik itu peternak mandiri maupun peternak kemitraan.

Baca Juga: Jangan Remehkan Biosekuriti

Sumber: poultryindonesia.com