Pentingnya Kesehatan Pencernaan Unggas

Pentingnya Kesehatan Pencernaan Unggas

Alatternakayam – Pencernaan adalah proses di mana protein, lemak, dan karbohidrat kompleks dipecah menjadi unit kecil yang selanjutnya akan diserap oleh tubuh. Sistem pencernaan adalah suatu lintasan organ yang menghubungkan antara lingkungan dengan proses metabolisme alamiah pada hewan. Pencernaan diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak masuk dalam mulut sehingga diabsorpsi. Secara garis besar fungsi saluran pencernaan adalah sebagai tempat pakan ditampung, tempat pakan dicerna, tempat pakan diabsorpsi dan tempat pakan sisa yang dikeluarkan.

Saluran pencernaan unggas merupakan salah satu organ terpenting dalam siklus kehidupan unggas, mengingat berbagai penyerapan dari input produksi berlangsung dalam organ tersebut

Sistem pencernaan pada unggas berbeda dengan sistem pencernaan pada ruminansia yang memiliki gigi untuk mengunyah.  Sistem pencernaan pada unggas dimulai saat makanan masuk melalui paruh dan berakhir pada kloaka. Unggas mengalami proses pencernaan yang berbeda dengan hewan lain, meskipun mempunyai kesamaan pada prosesnya. Sebagaimana hewan lain proses pada saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip yaitu secara mekanik, secara kimiawi, dan secara mikrobiologik.

Pencernaan secara mekanik pada unggas yaitu pencernaan dengan kontraksi otot saluran pencernaan. Untuk pencernaan secara kimiawi sendiri yaitu pencernaan yang terjadi dengan adanya bantuan enzim yang dihasilkan dari saluran pencernaan. Sedangkan pencernaan secara mikrobiologik terjadi dengan adanya mikrobia yang ikut berperan dalam proses pencernaan.

Organ pencernaan dan fungsinya

Saluran pencernaan dapat dipandang sebagai tabung memanjang yang dimulai dari mulut sampai kloaka, dan pada bagian dalam dilapisi oleh mukosa. Organ pencernaan pada ayam relatif pendek dibanding dengan mamalia. Saluran pencernaan ayam memiliki panjang berkisar 245-255 cm, tergantung pada umur dan jenis unggas.

Menurut Ir. Roni Fadilah, SE dan drh. Agustin Polana Dalam bukunya yang berjudul “Mengatasi 71 Penyakit pada Ayam”, organ pencernaan ayam terdiri dari mulut, kerongkongan (esophagus), tembolok (crop), ampela bagian depan (proventriculus), ampela (ventriculus), usus kecil (small intestine, yang terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum), usus buntu (ceca), usus besar (large intestine), dan kloaka, dilengkapi dengan kelenjar pencernaan yaitu hati, pankreas, dan empedu, dimana setiap bagian organ pencernaan ini memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Mulut berfungsi untuk minum dan memasukkan makanan, menghasilkan air liur yang mengandung enzim amilase (enzim pengurai makanan), dan mempermudah makanan masuk ke dalam kerongkongan. Kerongkongan sendiri berfungsi untuk menyalurkan makanan dari mulut ke tembolok, dan tembolok berfungsi sebagai penampung sementara makanan sebelum proses selanjutnya.

Proventriculus atau ampela bagian depan berfungsi sebagai penghasil pepsin atau enzim pengurai protein dan penghasil asam lambung (hydrochloric acid). Sedangkan ventriculus atau ampela memiliki otot yang kuat dan permukaan yang tebal, yang berfungsi sebagai pemecah makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Di bagian usus kecil terdapat pankreas yang menghasilkan enzim amylase, lipase, dan tripsin, di mana ketiga ini dan enzim lainnya yang dihasilkan dinding usus kecil berfungsi untuk menguraikan protein dan gula, yang hasilnya akan diserap usus kecil untuk didistribusikan ke seluruh tubuh ayam.

Usus kecil sendiri berfungsi sebagai tempat penyerapan sari-sari makanan, sedangkan usus besar berfungsi sebagai penambah kandungan air dalam sel tubuh dan menjaga keseimbangan air dalam tubuh ayam. Dan kloaka sendiri berfungsi sebagai lubang pengeluaran sisa pencernaan.

Peran saluran pencernaan unggas

Prof. Dr. drh. I Wayan T. Wibawan, MS. selaku Guru Besar FKH IPB, saat ditemui tim Poutry Indonesia di kediamannya pada Jumat (18/3), mengatakan bahwa saat ini unggas memiliki bibit yang unggul, artinya dia mempunya potensi genetik yang sangat tinggi. Supaya potensi genetik semacam ini tumbuh dengan baik, menurut Wayan diperlukan pakan dan nutrisi yang baik pula. Nutrisi yang baik ini bisa dipakai secara sempurna, apabila bahan-bahan pakan bisa dicerna, bisa diserap, serta bisa masuk ke dalam tubuh, kemudian digunakan oleh sel untuk menopang metabolisme.

“Pakan yang diberikan untuk ayam harus mampu di cerna. Siapa yang mencerna? yaitu enzim-enzim pencernaan, dan yang menghasilkan enzim pencernaan tentu kelenjar-kelenjar pencernaan, mulai dari mulut dan seterusnya. Sedangkan kelenjar pencernaan yang paling besar itu adalah hati, makanya hati itu sebagai tempat adanya kelenjar-kelenjar yang sangat penting. Saking pentingnya hati itu disebut penentu kehidupan, fungsinya tidak kurang dari 500 fungsi,” ucap Wayan.

Menurut Wayan kita harus menjaga jangan sampai terjadi kerusakan di dalam saluran pencernaan, karena di dalam saluran pencernaan ada enzim-enzim pencernaan, yang bertugas memotong bahan-bahan pakan, misalnya karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino, kemudian lemak menjadi asam lemak dan griserol, itu semua dipotong dan diserap oleh enzim pencernaan, dan untuk penyerapan ini tentu yang berperan adalah kualitas dari saluran pencernaan tadi.

“Vili-vili usus juga harus bagus, supaya luas permukaannya menjadi cukup, dan bisa melakukan penyerapan nutrien, yang kemudian dibawa ke dalam darah. Dan ini menjadi bahan baku pembentukan sel yang baru atau pembentukan telur. Jadi kalau misal di saluran pencernaan itu buruk, penyerapan menjadi terganggu, menjadi tidak efisien dan efektif, lebih lagi nanti sisa sisa protein yang ada di saluran pencernaan itu merupakan media yang sangat bagus bagi Clostridium untuk berkembang, maka akan terjadilah kemudian Enteritis Nekrotika, dan lain-lain, itu sebagai akibat gangguan penyerapan protein-protein di dalam saluran pencernaan,” tambahnya.

Sumber: poultryindonesia.com