Pencetus Ayam Kerdil

Pencetus Ayam Kerdil

Sumber Gambar: troboslivestock.com

Alatternakayam – Berbisnis ayam pedaging atau broiler di sektor hulu, tentunya berisiko cukup tinggi mulai dari persoalan penyakit, gangguan pertumbuhan, kualitas pakan, dan tantangan selama pemeliharaan. Peternak tidak dapat menampik berbagai masalah tersebut begitu saja, sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian supaya ayam dapat dipanen dengan baik serta peternak mendapatkan profit atau keuntungan yang optimal.

Cuaca saat ini yang tidak dapat diprediksi dan tak jarang cukup ekstrem menjadi tantangan bagi para peternak ayam. Menurut informasi dari peternak broiler di Malang, Jawa Timur, Kholiq bahwa beberapa bulan lalu yaitu pada November sampai Desember 2019, ayam di peternakannya terkena slow growth syndrome (slow growth) atau bisa disebut sindrom kekerdilan akibat cuaca yang cukup ekstrem.

“Selama satu periode pemeliharaan yaitu November hingga Desember 2019 ayam di peternakan kami terkena penyakit slow growth. Penyakit ini menyerang tepatnya saat cuaca ekstrem, sebab erat kaitannya dengan suhu dan kelembapan. Sehingga terjadi cekaman yang menyebabkan stres berkepanjangan, walaupun ayam berada di kandang sistem closed house (tertutup),” kisah Kholiq pada TROBOS Livestock.

Insiden yang sama pun dialami oleh peternak broiler di Pandeglang, Banten, Heri Irawan yang mengaku ayamnya terjangkit slow growth pada Desember 2019 lalu. Merunut dari Januari hingga November, performa ayam masih bagus, kemudian memasuki Desember performa ayam mulai menurun karena terserang slow gtowth, baik dari segi bobot badan maupun konversi pakan atau FCR (Feed Convertion Ratio) yang jauh dari standar.

“Jika diperhatikan ayam yang baru masuk (chick in) awalnya nampak sehat seperti biasa. Namun, penyebab slow growth ini mungkin dari segi kualitas pakan yang turun atau ada perubahan dalam bahan baku pakan. Sedangkan dari sisi manajemen kami tidak ada perubahan,” bebernya.

Pemicu dan Gejala Klinis

Adapun pemicu sindrom kekerdilan ini berkaitan dengan kontribusi kualitas DOC (ayam umur sehari) dan infeksi vertikal penyebab slow growth, serta virus yang ada di lingkungan kandang. Disampaikan Kholiq, beberapa gejala klinis yang nampak pada ayam, diantaranya ayam tumbuh dengan lambat, nampak pucat, lesu dan tidak aktif, asupan pakan (feed intake) rendah, beberapa ayam kerdil secara permanen, warna bulu kusam, serta kotorannya basah.

Umumnya, ayam mulai memperlihatkan gejala slow growth sejak menginjak usia satu pekan. “Bobot badan mingguan ayam di bawah standar, yang terlihat mulai usia 1 hingga 5 pekan. Walaupun sudah dipacu dengan vitamin, bobot badan ayam tetap tidak sesuai dengan standar,” keluhnya.

Sedangkan Heri melihat ciri-ciri yang terlihat pada ayam yang terkena slow growth ukuran tubuhnya kecil dan kelas (grade) ukurannya bervariasi serta keseragamannya (uniformity) hancur. “Secara fisik, seperti bulunya masih normal dan saya tidak yakin ada hubungannya ke arah virus. Sebetulnya dari ayam usia 10 hari sudah dilakukan komplain kepada pihak produsen, bahwa kondisi ayam sedang tidak normal,” ujar Kholiq.

Heri mengisahkan, broiler yang diternakkannya mulai ketinggalan bobot badan dari usia 10 hari, tepatnya pasca transisi pakan dari pre-starter ke starter. Setelah dianalisa lebih lanjut, ternyata semua kandang trennya sama, yaitu ayam memasuki usia 7 hari bobot badannya hanya 200 gram dan menginjak usia 10 hari ke atas pertambahan bobot badan (PBB) hariannya lambat dan jauh dari standar, hingga usia 3 pekan ke atas kondisinya pun semakin parah.

“Hal yang paling mencolok adalah dari tingkat keseragaman ayam yang hancur, sehingga terdapat empat kelas berdasarkan bobot badan, antara lain ayam usia 30 – 33 hari bobot badannya hanya 1,3 kg, 1 kg, 8 ons, dan 6 ons. Ini terjadi di chick in DOC pada Desember saja,” ungkapnya seraya kecewa.

Senada dengan Kholiq, Manajer Departemen Teknikal PT Romindo Primavetcom, Agus Damar menjelaskan penyebab dan faktor utama slow growth dibagi menjadi dua, yaitu yang bersifat infeksius (infectious) dan non-infeksius (non-infectious). Slow growth yang bersifat infeksius meliputi virus, bakteri dan mikoplasma, sedangkan non-infeksi meliputi aspek DOC, pakan, sistem perkandangan, dan biosekuriti.

“Fase-fase ayam dinyatakan terkena slow growth, antara lain pada usia 2 – 4 pekan yang mulai menunjukkan gejala kelumpuhan. Kemudian di usia 6 – 8 pekan, sebesar 1 – 5 % dari populasi ayam berhenti tumbuh dan bobotnya kurang dari 100 – 200 gram. Gejala Klinisnya, antara lain terjadi ketidakseragaman pada usia 4 – 6 hari, feses yang terlihat menempel di kloaka, mortalitas meningkat, serta pertumbuhan bulu abnormal yang sering juga disebut dengan helicopter disease,” kata pria yang kerap disapa Damar ini.

Berdasarkan perkembangan kejadian slow growth dewasa ini, Damar mengamati bahwa semakin meningkat seiring dengan mahal dan sulitnya mendapatkan DOC. Hal tersebut membuat seleksi DOC berdasarkan kelas apapun akan diterima oleh peternak dan juga faktor perubahan iklim yang ekstrem. Lazimnya, slow growth muncul pada musim penghujan, sehingga peternak perlu menguatkan manajemen brooding dan menjaga bahan baku pakan yang mudah terkontaminasi virus, bakteri, serta mikotoksin.

Guna mengukuhkan ketepatan diagnosa ayam yang terkena slow growth, sambung Damar, yaitu selepas anak ayam yang usianya lebih dari 14 hari atau 2 pekan. Ayam pun tidak menunjukkan perubahan secara spontan, sehingga butuh proses waktu dalam mendiagnosa ayam yang terjangkit slow growth. Sindrom kekerdilan ini gemar menyerang saluran pencernaan yang mengakibatkan timbulnya lesi dan gangguan proses digesti serta absorbsi.

Technical Support Education & Consultation PT Medion, Christina Lilis L. menjabarkan slow growth syndrom atau acap kali disebut juga runting stunting syndrom (RSS), merupakan sindrom dengan kondisi gangguan pertumbuhan pada ayam, terutama ayam pedaging, yang menyebabkan kekerdilan. “Beberapa istilah lain dari sindrom slow growth, diantaranya malabsorpsion syndrome, pale bird syndrome, dan viral arthritis. Penyebab RSS dapat dibedakan menjadi 2, yaitu faktor infeksius dan faktor non-infeksius,” sahutnya.

Adapun pada faktor infeksius, sejumlah virus sebagai agen infeksius yang dapat menyebabkan kekerdilan antara lain reovirus, enterovirus, parvovirus, rotavirus, calicivirus, dan picornavirus. Namun reovirus paling sering ditemukan pada saat isolasi dalam kasus ini. Reovirus, penyakitnya sering disebut helicopter disease, akan menyebabkan kekerdilan terutama karena ada hubungannya dengan penyerapan nutrisi atau proses digesti makanan. Virus ini akan menginfeksi vili-vili sel epitel usus halus yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga target bobot badan tidak tercapai.

“Pada anak ayam umur 2 – 4 hari yang terinfeksi virus ini umumnya menunjukkan gejala berupa lesu, sayap menggantung dan anak ayam kurang aktif atau malas bergerak. Sementara agen bakterial yang terlibat dalam kasus ini, secara umum menginfeksi saluran pencernaan, seperti Escherichia coli (colibacillosis) maupun Clostridium perfringens (necrotic enteritis),” bubuhnya.

Sedangkan faktor non-infeksius, Christina menjelaskan lebih detil, yaitu bermula dari hal-hal yang berkaitan dengan manajemen dan kualitas DOC. “Pada permasalahan kualitas bibit atau DOC, kebanyakan disebabkan oleh genetik induk, telur tetas berukuran kecil yang juga berasal dari induk berumur muda atau berumur kurang dari 25 pekan, telur menetas tidak tepat saat antibodi maternal terhadap reovirus masih rendah, dan induk yang positif terhadap Salmonella sp,” jabarnya.

Kemudian, faktor non-infeksius yang kedua adalah manajemen, yaitu saat masa brooding yang kerap disebut dengan masa kritis. Sepanjang masa brooding berlangsung pertumbuhan yang pesat, sebab terjadi pembelahan (hiperplasia) dan pembesaran (hipertropi) sel-sel tubuh ayam. Suhu yang tidak sesuai, baik terlalu dingin ataupun terlalu panas dapat menyebabkan proses pembentukan organ-organ tubuh anak ayam terganggu, akibatnya ayam lebih rentan terhadap penyakit, pembentukan organ sistem pencernaan, sistem termoregulasi, dan sistem imun atau kekebalan tubuh bisa menjadi tidak sempurna.

“Berikutnya adalah ransum dan air minum, pertumbuhan ayam sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas kandungan nutrisi yang seimbang. Perlu diperhatikan kondisi ransum terhadap kelembapannya serta kemungkinan adanya jamur, sebab kualitas ransum dapat berkurang akibat adanya jamur dan mikotoksin. Lama penyimpanan ransum juga akan memperngaruhi kandungan nutrisi ransum, sehingga kadar vitamin dalam ransum akan menurun seiring lamanya waktu penyimpanan,” paparnya.

Baca Juga: Menghindari Penyakit Dengan Mengatur Ventilasi

Sumber: troboslivestock.com