Penanganan Bau pada Kandang

Penanganan Bau pada Kandang

Kadar amonia dalam kandang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kelembaban, temperatur, pH dan kadar nitrogen pada alas kandang atau feses ayam. Amonia tidak diciptakan secara langsung dari feses ayam, melainkan melalui dekomposisi oleh mikroorganisme di alas kandang. Oleh karena itu, manajemen alas kandang juga turut berperan untuk mengatasi masalah bau kandang. Terlebih lagi, feses yang dieksresikan oleh ayam akan jatuh langsung ke alas kandang bercampuran dengan air yang bergelimpangan di tempatnya yang kemudian menjadikan alas kandang menjadi basah dan becek.

Apabila dilihat dari bahannya, di Indonesia memiliki ragam pilihan untuk dijadikan alas kandang, seperti serbuk gergaji, sekam padi dan jerami. Sebenarnya, tiap bahan alas kandang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dinilai dari daya serap airnya, serbuk gergaji lebih unggul dibanding dengan bahan alas kandang lainnya, namun kuantitas serbuk gergaji tidak banyak, sehingga memiliki harga yang lebih mahal.

Pada umumnya, peternak lebih sering menggunakan sekam padi karena dinilai mudah diperoleh, sehingga harganya lebih murah. Selain itu, sekam padi juga memiliki ukuran partikel yang ideal dan bebas akan debu kandang. Kendati demikian, sekam padi cukup rentan apabila digunakan untuk DOC (Day Old Chicken), oleh karena itu pada fase DOC alangkah baiknya jika menggunakan alas kandang menggunakan terpal terlebih dahulu.

Dalam manajemen alas kandang untuk menimalisir bau, Susilo menerangkan, penaburan awal sekam seminimalnya ditabur setinggi 5 sentimeter dari permukaan kandang dengan serata mungkin. Apabila sekam telah ditabur, lakukan desinfeksi untuk membasmi mikroorganisme. Setelah didesinfeksi, sekam segera diaduk untuk meratakan cairan desinfektan.

“Manajemen alas kandang itu perlu diperhatikan, karena sebagian besar bau disebabkan dari kelalaian manajemen alas kandang. Langkah pertama dalam manajemen alas kandang adalah lakukan penaburan di awal dengan tinggi 5-8 sentimeter. Selanjutnya, lakukan pembolak-balikan alas kandang secara rutin 3-4 hari sekali untuk cegah penggumpalan. Kemudian, pada hari ayam ke-12 dilakukan penaburan ulang yang selanjutnya dilakukan 2 hari sekali penaburan ulang. Tujuan penaburan ulang untuk menutupi sekam yang telah basah sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penguraian amonia oleh bakteri. Kemudian, pada umur 21 hari, penaburan ulang sekam dilakukan setiap hari,” jelas Susilo.

Ketika alas kandang sudah ditabur dan DOC belum masuk, penting juga memberikan kapur secara merata. Tujuan dari pemberian kapur adalah untuk membantu penyerapan air dan kelembaban udara di dalam kandang. Selain itu, kapur juga berperan untuk mencegah terjadinya penyakit koksidiosis, sebuah penyakit parasit pada sistem pencernaan unggas yang disebabkan oleh protozoa genus Eimeria yang tidak kuat dengan panas kapur.

Pada kandang yang menggunakan tempat minum berupa nipple, pengaturan posisi ketinggian nipple di kandang juga harus diperhatikan. Sebaiknya posisi ketinggian nipple disesuaikan dengan derajat ayam mengangkat kepalanya terhadap nipple, yaitu 35-45 derajat. Hal tersebut bertujuan agar ayam dapat dengan mudah mengambil air minum, sehingga air yang dikeluarkan oleh nipple tidak keluar berantakan yang dapat membuat genangan air dan berakibat alas kandang menjadi becek.

Tak kalah penting, sirkulasi udara yang baik juga merupakan faktor penting dalam menangani bau kandang. Pada kandang closed house, terdapat kipas atau exhaust fan yang berperan untuk membuang udara yang mengandung karbondioksida, debu dan amonia dan digantikan dengan udara segar yang masuk melalui cooling pad. Susilo dalam hal ini menerangkan, sebelum membuang udara, kipas memiliki tugas untuk menjaga kelembaban alas kandang agar tetap kering. Dengan begitu, proses dekomposisi kotoran ayam oleh mikroorganisme penyebab bau kandang dapat dihambat.

“Kebutuhan kipas pada kandang harus diperhitungkan apabila ingin mengurangi bau kandang secara optimal. Pada umumnya kipas memiliki 20.000 cfm (Cubic Feet per Minute). Sedangkan konstanta bobot 1 kg ayam membutuhkan 6 cfm. Setelah itu, jumlahkan dengan populasi ayamnya. Misal populasi ayam 10.000, berarti kalikan 6 cfm, sehigga mendapatkan angka 60.000. Selanjutnya 60.000 dibagi 20.000, yakni 3. Berarti dengan populasi ayam 10.000, idealnya membutuhkan 3 buah exhaust fan,” terang Susilo.

Ketika udara telah dibuang oleh exhaust fan, selanjutnya cooling pad berperan untuk memasukan udara segar dari luar kandang. Selain mengatur sirkulasi udara, cooling pad juga berperan untuk menjaga kestabilan temperatur kandang, yang merupakan salah satu unsur pembentukan gas amonia.