Optimalisasi Produksi dengan Closed House

Optimalisasi Produksi dengan Closed House

Sumber Gambar: http://troboslivestock.com
Alatternakayam – Teriknya matahari pada siang itu (16/4), tak membuat surut TROBOS Livestock menyusuri perjalanan ke peternakan broiler (ayam pedaging) milik Rahmatullah. Peternakan broiler dengan sistem closed house (kandang tertutup) tersebut berlokasi di Jalan Raya Serang KM. 71 Kampung Kedinding Desa Kibin, Kecamatan Kibin, Serang, Provinsi Banten.
Rahmatullah, pemilik CV Tambak Muda Utama (TMU), memulai bisnis broiler sejak 2014 hingga sekarang. Saat ini, ia juga memegang kendali sebagai Kepala Produksi CV Tambak Poultry Shop (Tambak PS) milik orang tuanya yang sudah malang melintang berbisnis broiler sejak 1990-an. Hingga kini, CV Tambak PS masih eksis dengan 7 kandang open house (kandang terbuka) yang berkapasitas 400 ribu ekor, yang tersebar di wilayah Serang, Banten.
Mengenai closed house, pria yang disapa Mamat ini menjelaskan, dibangun sejak pertengahan 2018 dan selesai pada Februari 2019. Pembangunan cukup lama karena terkendala biaya investasi hingga mencapai Rp 2,5 miliar. Kandang dibuat 2 lantai, dengan total kapasitas mencapai 44 ribu ekor. “Baru 1 kandang, tapi rencananya akan membuat 2 kandang lagi di tempat yang sama,” ujarnya.
Ia bercerita tentang closed house yang memiliki keunggulan teknologi, bagaimana mengatur sirkulasi udara kandang untuk memenuhi kebutuhan ayam supaya hidup lebih nyaman, sehingga produktivitas ayam optimal karena ayam tidak gampang stres. “Kita atur suhu, oksigen, pakan dan air minumnya,” ucap alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung ini.
Terutama soal suhu lingkungan kandang, menurut mamat, kebutuhan suhu ayam berbeda-beda tergantung tingkat umur dan masing-masing wilayah Indonesia. Contohnya di Serang, semakin kecil umur broiler, maka semakin tinggi kebutuhan suhunya sekitar 30 derajat celsius. Sebaliknya, semakin tinggi umur broiler misalnya 21 hari, semakin rendah suhu yang diinginkan sekitar 28, bahkan 27 derajat celsius.
Closed house, dapat mengoptimalkan pertumbuhan ayam. Faktor utama yaitu kualitas DOC (ayam umur sehari). “Kalau kualitas DOC baik, sangat mudah mencapai Indeks Performance (IP) di atas 400. Sementara, kalau DOC jelek, sangat sulit mencapai IP di atas 400,” akunya. Penilaian kualitas DOC yang bagus adalah bobot badan di atas 39 gram, lincah, kaki mengkilap, mata bersih dan pada umumnya sehat.
Selain kualitas DOC, kualitas pakan juga sangat menentukan untuk menggenjot performa broiler hingga panen. Tetapi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi peternak karena hampir semua produk pakan bebas Antibiotic Drowth Promoters (AGP). Karena itu, jenis dan porsi pakan yang akan diberikan harus tepat sesuai dengan umur atau bobot badannya. Misalnya umur broiler 7 hari, diberikan pakan starter fine crumble dengan kandungan Protein Kasar (PK) 22 – 24 %. “PK tinggi karena untuk pertumbuhan organ dalam. Sedangkan masa pertumbuhan hingga panen diberikan pakan pellet dengan PK 21 %, PK rendah karena ayam butuh energi,” terangnya.
Efisiensi Tinggi
Keunggulan closed house lainnya adalah yaitu efisiensi tenaga kerja. Menurut Mamat, kepadatan kandang sebanyak 14 – 16 ekor per m2, berbeda dengan open house yang hanya 8 – 10 ekor per m2. Sehingga, 1 anak kandang di closed house bisa menangani lebih banyak dibandingkan open house. “Closed house minimal 10.000 ekor, sedangkan open house hanya mampu menangani ayam 5.000 – 6.000 ekor,” tukasnya.
Selain efisiensi tenaga kerja, closed house dinilai lebih efisien ketika biaya pakan yang membengkak, meskipun pemberian pakan sedikit tetapi bobot badan cepat naik. Kalau IP bagus, biaya Harga Pokok Produksi (HPP) lebih efisien sekitar Rp 3.000 per kg. “Panen ayam periode pertama umur 21 hari bobot badan rata-rata di angka 0.9 – 1 kg, pakan masih ada sisa 8 ton dari stok awal sebanyak 85 ton,” imbuhnya.