Musim Kemarau Tiba, Ayam Modern Butuh Proteksi Terhadap Ancaman Panas

Musim Kemarau Tiba, Ayam Modern Butuh Proteksi Terhadap Ancaman Panas

Alatternakayam – Ayam modern merupakan ayam yang dibekali dengan potensi genetik yang mumpuni berupa cepatnya pertumbuhan dan tingkat efisiensi yang baik. Namun, di balik keunggulan ayam modern tersebut memerlukan perhatian khusus akan kondisi tubuhnya, yaitu kerentanan terhadap cuaca panas seperti pada musim kemarau.

Oleh sebab itu, memasuki musim kemarau, para peternak perlu meningkatkan kewaspadaannya. Hal ini diungkapkan oleh drh. Eko Prasetio selaku Veterinary Poultry Technical and Consultant yang mengatakan bahwa musim kemarau di Indonesia cukup unik, yaitu walaupun siang itu temperatur udara cenderung tinggi, namun malamnya terkadang suhu udara turun dan disertai hujan. Meskipun kondisi tersebut di setiap daerah memang berbeda.

“Kondisi yang berbeda di tiap daerah ini penting karena pada saat kondisi sangat panas sekali kemudian masih disertai hujan, akan memberikan pengaruh kepada kondisi broiler,” jelas Eko pada saat menjadi narasumber Poultry Indonesia Forum (PIF) edisi ke 15 yang dilaksanakan melalui Zoom, Sabtu (12/6).

Masih menurut Eko, variasi pola cuaca di Indonesia yang berbeda tersebut memerlukan tata laksana atau manajemen pemeliharaan yang harus menyesuaikan kondisi perubahan lingkungan tersebut.

“Tantangan peternak yang tinggal di daerah dengan curah hujan tinggi memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan peternak yang tinggal di curah hujan rendah,” ujar Eko.

Eko menjelaskan bahwa karakter broiler modern saat ini yaitu akselerasi pertumbuhannya yang terbilang tinggi menjadikan tingkat stres tubuhnya tinggi, atau mengalami kenaikan 10 kali lipat jumlah hormon kortisol, yaitu homon stress, dalam kurun waktu lima tahun.

“Hal tersebut menandakan bahwa dalam tubuh broiler sudah ada faktor stres yang muncul yang berdampak pada bagaimana broiler menyesuaikan diri terhadap keadaan yang ada,” imbuhnya.

Kerentanan ayam modern terhadap stres juga disampaikan oleh drh. Vetnizah Juniantito, P.hD, APVet selaku Pakar Patologi Veteriner FKH IPB University. Rentannya ayam terhadap kondisi panas disebabkan karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat dan ayam memiliki lemak yang tebal dibawah kulit sehingga terjadi retensi panasi oleh lemak tersebut.

“Memang tidak mudah bagi ayam untuk mengeluarkan panas dari tubuhnya, sehingga pengeluaran panas bagi ayam perlu mekanisme lain,” jelas Tito.

Tito menyebutkan bahwa dalam pemeliharaan, usaha untuk mencapai suhu thermoneutral diperlukan untuk memberikan kondisi nyaman bagi ayam agar dapat makan dan minum dengan baik. Kondisi yang terlalu panas dapat menimbulkan heat stress pada ayam.

“Kondisi yang terlalu panas menimbulkan perubahan perilaku pada ayam. Jika suhu lingkungan lebih dari 38 derajat celcius, maka suhu tubuh ayam dapat mencapai 45 derajat celcius akibat ayam kesulitan untuk mengelurkan panas. Hal itu dapat menimbulkan kerusakan organ pada ayam,” terangnya.