Mikotoksin: Pintu Gerbang Beragam Penyakit

Mikotoksin: Pintu Gerbang Beragam Penyakit

Sumber Gambar: troboslivestock.com

Alatternakayam – Asupan pakan berkontribusi sekitar 70 % dalam menunjang keberhasilan peternak untuk memanjakan ayam peliharaannya hingga mendapatkan produksi yang maksimal. Salah satu indikator keberhasilan dalam beternak adalah pemberian pakan yang optimal dengan kualitas yang tak kalah baik.

Memasuki musim hujan seperti saat ini, peternak layer (ayam petelur) khususnya yang self mixing (mencampur pakan sendiri) dituntut lebih berhati-hati dalam menyediakan pakan untuk ayam peliharaannya. Pasalnya, ancaman jamur dan mikotoksin yang mengkontaminasi pakan sangat besar.

Peternak muda di Tulungagung, Jawa Timur, M. Ilham Toyib Wicaksono, misalnya. Ayam petelur yang ia pelihara rupanya baru saja terpapar mikotoksin. “Kejadiannya baru minggu kemarin (minggu ke-3 Desember 2019). Menyerang ayam pada fase grower,” ungkap alumni Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya ini.

Karena di peternakan miliknya melakukan self mixing, Ilham menduga, keberadaan mikotoksin akibat dari kualitas jagung yang kurang baik. “Jagung sangat rentan terpapar mikotoksin. Petani jagung pun menyampaikan, seharusnya jagung dipanen saat musim yang bagus. Artinya, musim panen tidak bersamaan dengan musim hujan,” kata dia.

Kadar air dalam jagung yang tinggi, yakni sampai lebih dari 20 % membuat mikotoksin mudah bersarang pada jagung. Setelah mikotoksin sudah menyebar, Ilham mengelompokkan penyakit ayam menjadi kasus primer dan sekunder. Primer berarti, kasus penyakit yang terjadi akibat dari sebaran virus, jika sekunder adalah kasus penyakit yang muncul akibat terpapar jamur atau terkena cacar.

Kisah lainnya datang dari peternak layer asal Payakumbuh, Sumatera Barat, Dodi Mulyadi. Ia bercerita, apabila pakan sudah terpapar mikotoksin, maka akan sangat berbahaya bagi kesehatan ayam yang dipelihara. “Mikotoksin merupakan hasil metabolis jamur yang sangat kuat dan bisa menyebabkan kerusakan pada organ tubuh ayam,” kata Dodi kepada TROBOS Livestock.

Pemilik Faliq Farm ini juga pernah mendapat pengalaman menghadapi kasus mikotoksin di peternakannya. Serupa dengan Ilham, mikotoksin yang muncul di peternakan milik Dodi akibat kelalaiannya dalam memilih bahan baku pakan. “Salahnya, kami memilih jagung yang memiliki kadar air lebih dari 16 %. Dalam proses penyimpanan di gudang pakan, bahan baku pakan tersebut terpapar jamur,” kilahnya. Akibat kasus mikotoksin ini terjadi penurunan produksi hingga 30 % di peternakannya.

Sejak saat itu, Dodi selalu cermat memeriksa bahan pakan yang akan ia beli. Pria yang juga berprofesi sebagai konsultan bagi peternak rakyat dan dokter hewan ini tak ragu untuk menolak apabila bahan pakan yang didapat dirasa tidak berkualitas baik.

Ia pun menyoroti minimnya perhatian peternak dalam pemilihan bahan baku pakan. Sebagai seorang konsultan yang setiap hari memberikan pemahaman bagi peternak, acap kali Dodi menemukan kasus mikotoksin yang ada di kandang. “Perhatian lebih mengenai mikotoksin sebetulnya ada pada peternak rakyat yang melakukan self mixing. Kalau di pabrik pakan khusus memiliki divisi QC (quality control) yang sangat selektif dalam memilah bahan baku sehingga peluang pakan terkena mikotoksin sangat rendah. Namun, jika di peternak rakyat yang meracik pakannya sendiri, peluang terkena mikotoksin sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pengawasan kualitas pakan yang lemah dan hanya diserahkan kepada karyawan gudang pakan,” jelas Dodi.

Uji Mikotoksin

Menurut Senior Technical Manager PT Zoetis Animal Health Indonesia, Betty Yuriko, nutrisi dalam pakan akan menurun bahkan cepat rusak apabila terdapat mikotoksin di dalamnya. Sebagai contoh, lemak kasar pada pakan yang mengandung jamur ketika disimpan selama 25 hari menurun dari 3,7 % menjadi 2,2 % (Bartov Poultry Sci. 64 : 1236, 1985).

 

Untuk mendeteksi adanya mikotoksin, lanjut Betty, pakan harus diuji dengan Uji Kadar Toksin dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Metode HPLC ini biasanya dilakukan untuk mendeteksi apakah pakan mengandung aflatoxin yang merupakan salah satu jenis mikotoksin terbanyak di Indonesia.

Nutrition Architect Manager PT Nutricell Pacific, Raymundus Genty Laras menyampaikan, jika pengujian mikotoksin tergolong sangat sederhana. Cukup dengan melakukan analisa mikotoksin ke laboratorium terdekat. Namun, harus diiringi dengan pengambilan sampel yang tepat. Sebab, satuan dari mikotoksin adalah part per billion (pbb). Artinya, 1 pbb setara dengan 1 milimeter dalam 1.000 kilometer.

Mekanisme Penyebaran

Pada proses kontaminasi mikotoksin dalam pakan, sebenarnya bisa menyebar karena 3 faktor yaitu fisik, kimia, dan biologis. “Faktor fisik contohnya adalah temperatur dan kelembapan. Faktor kimia, misalnya nutrisi mineral, proses reduksi-oksidasi, dan pH. Untuk faktor biologis, adanya hewan invertebrata lainnya yang muncul dapat menjadi penyebab faktor ini,” terang Betty.

Menurut Dodi, penyebaran mikotoksin dimulai saat penanganan pasca panen bahan baku pakan seperti jagung. Apabila penanganan pasca panennya buruk, maka mikotoksin akan sangat mudah menyebar.

“Peternak yang melakukan self mixing harus mencermati hal ini karena kalau di pabrik pakan memiliki corn dryer (alat pengering jagung) sementara di tingkat petani, hanya menggunakan proses pengeringan alami dengan sinar matahari. Jika kelembapannya tinggi, maka akan timbul cendawan,” jelasnya.

Sebagai Imunosupresan

Pada dasarnya yang mengkhawatirkan dari mikotoksin adalah perannya sebagai imunosupresan. Akibatnya, mikotoksin mampu memporak-porandakan antibodi ayam. “Mikotoksin akan menyebabkan ayam terkena imunosupresi atau penurunan antibodi. Ini akan sangat berbahaya, karena jika antibodi ayam sudah menurun maka banyak penyakit yang akan menyerang,” jelas praktisi perunggasan asal Sukabumi, Jawa Barat, Nuryanto Saskara.

Ditambahkan Dodi, racun yang dilepaskan oleh jamur kemudian akan diserap oleh usus ayam dan masuk ke hati. Sedangkan fungsi utama hati adalah melakukan metabolisme zat-zat makanan. “Apabila pakan tercemar mikotoksin, maka tugas hati menjadi jauh lebih berat yakni harus menetralisir seluruh racun yang masuk,” ujarnya.

Kinerja hati kemudian menjadi tidak maksimal dan menyebabkan masih adanya racun yang tidak hancur. Lalu, racun tersebut akan kembali masuk ke sumsum tulang belakang dimana bagian tersebut turut memproduksi antibodi dan sel-sel darah putih. “Karena racun sudah bersarang di sumsum tulang belakang, akhirnya akan mengganggu sintesa protein dan produksi antibodi sehingga timbul imunosupresi,” kata Dodi melanjutkan penjelasannya.

Pembuangan berlebih pada organ-organ limfoid merupakan faktor pendukung timbulnya efek imunosupresif pada ayam. Sayangnya, peternak pun dirasa belum sepenuhnya peduli terhadap kasus ini. Padahal, imbasnya sangat berbahaya untuk ayam dan banyak peternak yang baru akan memperhatikan apabila ayam peliharaannya sudah terkena penyakit akibat mikotoksin.

Betty berpendapat, dalam kasus mikotoksin, keparahan kasus umumnya terjadi karena efek kumulatif dan sinergis. Efek kumulatif yaitu racun masuk ke dalam tubuh ayam dan terjadi secara terus menerus. Meskipun dalam jumlah yang rendah, namun memiliki akibat fatal karena dapat tertimbun sehingga memberikan efek toksik bagi ayam.

Demikian pula yang terjadi pada efek sinergis, yakni jenis racun yang terdapat dalam biji-bijian di dalam pakan. Umumnya, terdapat lebih dari 2 jenis racun. Bahkan, dalam hal ini mampu memperkuat daya racun serta memperparah kondisi ayam.

Sebabkan Penyakit

Karena mikotoksin adalah imunosupresan, maka sudah dapat dipastikan bahwa kehadirannya berpotensi menimbulkan beragam penyakit. Mikotoksikosis, adalah salah satu penyakit yang pasti muncul karena ayam terlalu banyak mengkonsumsi pakan yang terkena mikotoksin.

“Apabila dilakukan bedah bangkai, maka terdapat jamur yang menyebar di sekitaran organ dalam ayam, yaitu hati,” kata Nuryanto. Adapula penyakit turunannya seperti Necrotic Enteritis (NE), Inflammatory Bowel Disease (IBD/radang usus) dan Newcastle Disease (ND/tetelo).

Dodi turut berkomentar, jika keadaan jaringan yang tidak normal atau biasa disebut lesi dalam istilah kedokteran, yang ditimbulkan akibat mikotoksikosis akut umumnya ditemukan di dalam hati dan ginjal. Tandanya, adanya pembesaran dan warna yang lebih pucat pada kedua organ tersebut. Biasanya, hati akan berwarna lebih pucat atau kekuning-kuningan.

Selain itu, duodenum atau usus dua belas jari akan mengalami distensi (kembung) karena menumpuknya cairan kataral di dalam lumen. Terdapat pula pendarahan pada kulit, otot, dan saluran pencernaan.

Ditambahkan Raymundus, jika secara umum efek pertama yang akan muncul akibat adanya racun adalah performa ayam yang turun seperti FCR (rasio konversi pakan) yang naik. Sementara berat badan menurun diikuti dengan produksi telur yang turut menurun.

Kerugian yang juga ditimbulkan akibat adanya mikotoksin dengan jenis aflatoxin (AFB1, AFB2, AFG1, AFG2, dan AFM1) adalah hepato-carcinogen atau keadaan kanker hati akan timbul apabila sering terjadi kontaminasi pada ayam. Akan muncul juga kerusakan pada DNA dan RNA, serta protein-protein intraseluler dan berujung pada rusaknya sistem reproduksi yang berefek fatal pada keturunannya.

Sumber: troboslivestock.com