Infeksi Virus Corona pada Ayam

Infeksi Virus Corona pada Ayam

Oleh: drh. Sulaxono Hadi1) dan drh.Ratna Loventa Sulaxono2)

Infectious bronchitis yang disingkat IB merupakan penyakit yang tidak asing bagi tenaga medis veteriner. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan menular secara cepat pada ayam, dengan gejala klinis bersin, sesak napas, keluar leleran dari hidung ayam, dan kematian pada ayam karena terjadinya kerusakan pada ginjal yang mengakibatkan gagal ginjal. Morbiditasnya bisa mencapai 100% dengan angka mortalitas mencapai 60%.

Vaksinasi adalah langkah pencegahan yang bisa dilakukan di samping tindakan biosekuriti, peningkatan sanitasi lingkungan dan higiene kandang, serta desinfeksi dengan desinfektan antivirus.

Sampai saat ini tidak ada bukti manusia bertindak sebagai reservoir virus dan terjadinya replikasi virus penyebab infectious bronchitis unggas ini. Walaupun antibodi telah ditemukan secara serologis dengan pengujian serum netralisasi pada pekerja di usaha peternakan ayam. Akan tetapi, tidak memiliki pengaruh dari sisi kesehatan pekerja. Dengan kata lain, tidak ada penularan dari manusia ke unggas dan manusia ke unggas. Angsa juga termasuk unggas yang peka terhadap virus IB. Hal tersebut ditandai dengan produksi telur yang turun drastis serta kematian yang tinggi. Unggas lain yang bisa terserang adalah kalkun dan puyuh.

Penyakit viral ini dapat menular antarayam maupun antarkandang, secara horizontal dan vertikal. Sumber infeksi di kandang berasal dari leleran hidung atau mulut dan juga tinja. Virus IB bisa ditemukan pada tinja ayam pada selang waktu 1-24 hari. Penularan horizontal antarunggas di kandang lainnya juga dapat terjadi melalui udara, peralatan, pakan, minum yang tercemar, alas kaki, dan baju pekerja kandang yang tercemar. Penularan antar unggas terjadi dalam waktu 3 hari, sedangkan penularan antarkandang atau peternakan bisa terjadi dalam waktu 3-4 hari. Penularan secara vertikal diduga dapat terjadi melalui semen dari unggas jantan ke betina. Virus IB juga bisa ditemukan pada gonad ayam jantan yang terinfeksi, yang juga bisa menjadi jalan penularan ke ayam betina.

Epidemiologi dan patologi

Infectious bronchitis pada ayam disebabkan oleh virus dari keluarga coronaviridae, genus gamma coronavirus dengan spesies avian coronavirus. Serotipe virus ini sangat banyak dalam satu benua, namun berbeda antar benua. Kondisi yang seperti ini menyulitkan dalam diagnosa dan pengendalian.

Infectious bronchitis yang walaupun sudah ditemukan sejak tahun 1930, tetapi penyakit ini masih endemis di berbagai negara. Morbiditas yang terjadi berkisar antara 80% hingga 100% dengan mortalitas yang relatif rendah. Dampak serangan penyakit ini di samping terjadinya kematian, juga kerugian ekonomi akibat biaya produksi menjadi tinggi sedangkan produksi menjadi menurun.

Virus IB berkembang pada saluran pernapasan, ginjal, dan alat reproduksi. Beberapa strain virus IB termasuk ganas seperti serotpe Massachusettts (Mass) yang menyebabkan kerusakan yang hebat pada saluran pernapasan. Infeksi sekunder yang mengikuti, yaitu bakteri seperti Escherichia coli akan memperparah kondisi infeksi dengan timbulnya infeksi pada kantung udara (air sacculitis), infeksi pada kantung pembungkus jantung (pericarditis), dan infeksi pada selaput hati (perihepatitis).

Serangan virus IB pada saluran reproduksi unggas memiliki dampak yang bervariasi. Beberapa strain virus IB dapat bereplikasi pada saluran reproduksi. Efek patologis dari penyakit ini yaitu menyebabkan penurunan produksi telur, perubahan warna kerabang, dan tekstur kerabang telur.

Akibat adanya efek patologis berupa kerusakan pada saluran untuk produksi telur dan proses pengerabangan telur ayam yang terganggu, otomatis produksi ayam bisa menurun dan telur ayam yang dihasilkan dalam bentuk yang abnormal. Bentuk telur yang abnormal ditunjukkan dengan keasimetrisan kerabang serta kerabang telur yang tipis dan lembek. Akibatnya, telur bisa pecah di luar tubuh ayam atau dalam saliran reproduksi ayam. Hal tersebut akan menjadi pertanyaan di benak peternak walaupun mereka telah memberikan ayam-ayamnya pakan dengan komposisi yang cukup seimbang serta sesuai dengan rekomendasi untuk ayam produksi.

Pada saat bedah bangkai, akan ditemukan adanya regresi ovarium pada beberapa ayam betina. Kerusakan pada saluran telur yang juga ditemukan terjadi menyebabkan turunnya produksi telur. Pada beberapa kasus, penurunan produksi telur bisa berkisar 6% sampai dengan 12%, dari satu minggu hingga 6-8 minggu setelah terjadinya infeksi.

Virus IB strain Australia umumnya menyebabkan kerusakan pada ginjal ayam, seperti yang terjadi di Italia, USA, Belgia, Prancis, Tiongkok, Jepang, Taiwan, dan negara-negara Eropa lainnya. Kematian akibat kerusakan pada ginjal karena terjadinya toksemia. Kematian yang terjadi berkisar 5-80% pada ayam umur 10 minggu. Beberapa penelitian lainnya menyebutkan bahwa kematian berkisar 5-50%. Kematian biasanya terjadi pada hari keempat sampai kelima pasca infeksi.

Pada ayam yang mati akan ditemukan perubahan pada beberapa organ tubuhnya berupa dehidrasi dan karkas berwarna gelap, organ ginjal membesar karena pembengkakan dengan warna putih atau pucat, dan dapat pula ditemukan penumpukan kristal asam urat pada ureter ayam.  Secara mikroskopis, kerusakan pada ginjal terjadi pada sel-sel tubuli ginjal, ditemukan banyak sel-sel leukosit polinuklear pada jaringan interstitial ginjal. Kerusakan pada bagian medulla ginjal akhirnya akan menjalar ke bagian dari korteks ginjal. Degenerasi pada tubuli ginjal terjadi pada hari kelima sampai dengan kesepuluh setelah infeksi. Nefritis pada ginjal menyebabkan bobot badan ayam merosot. Kehilangan bobot badan bisa terjadi 3-8%.

Pada layer atau ayam petelur, dampak serangan IB dapat berupa menurunnya produksi dan tidak tercapainya puncak produksi. Penurunan produksi telur bisa berkisar 3-50%. Produksi telur bisa kembali naik, akan tetapi kenaikan kembali produksi tidak akan mencapai kondisi yang diharapkan. Serangan IB pada ayam petelur remaja atau pullet akan mengakibatkan terlambatnya pullet mencapai masa dewasanya dan memproduksi telur sesuai umurnya.

Serangan IB pada ayam parent stock, mengakibatkan penurunan produksi akibat kerusakan pada saluran reproduksi. Infeksi vertikal pada telur tetas menyebabkan daya tetas telur menjadi kurang baik serta pertumbuhan embrio dalam telur yang terganggu atau abnormal. Embrio bisa mati saat proses penetasan atau telur bisa menetas dengan kondisi DOC lemah dan tidak layak dipasarkan. Keadaan ini membawa konsekuensi kerugian ekonomi pada usaha penetasan unggas.

Infeksi IB pada peternakan ayam dengan sistem manajemen yang baik relatif sedikit memberikan dampak kerugian ekonomi karena infeksi lebih jarang terjadi serta pengendalian dapat dilakukan secara cepat dan terlokalisir. Kerugian ekonomi serangan IB pada peternakan dengan manajemen yang baik pernah dihitung hanya 3%. Tidak demikian pada usaha peternakan dengan manajemen yang kurang baik, penularan penyakit akan terjadi cepat sehingga kerugian ekonomi bisa bertambah besar.

Serangan IB pada saluran napas ayam menyebabkan terjadinya berbagai perubahan patologis pada saluran pernapasan di antaranya berupa faringitis, trakheitis, hingga pneumonia dengan berbagai derajat. Mulai dari derajat yang ringan hingga pneumonia yang berat, terutama bila terjadi juga adanya infeksi sekunder bakterial. Napas menjadi tersumbat karena proses peradangan pada saluran napas, penumpukan eksudat radang dan lendir pada hidung ayam. Penyumbatan pada saluran supraorbital menyebabkan mata ayam seperti sebam, ayam juga akan mengalami bersin, napas yang tersengal dengan mulut terbuka, dan menengadah ke atas saat ekspirasi mengeluarkan napas. Tidak jarang pada saat sore atau malam hari akan terdengar bunyi napas ayam-ayam di kandang. 1)Medik Veteriner Ahli Balai Besar Veteriner Maros, 2)Medik Veteriner Pertama Balai Besar Veteriner Maros