Edukasi, Pengendalian dan Pengawasan Antibiotik pada Perunggasan

Edukasi, Pengendalian dan Pengawasan Antibiotik pada Perunggasan

Alatternakayam – Industri perunggasan telah menjelma menjadi industri yang strategi dengan peran besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pendapatan negara dan banyak membuka lapangan pekerjaan. Di balik peran dan kemandiriannya, industri ini masih sering dihadapkan pada berbagai persoalan. Beberapa waktu ke belakang, industri perunggasan dihadapkan pada permasalahan pelanggaran penggunaan antibiotik yang sudah diatur dalam Permentan Nomor 14 Tahun 2017.

Pengendalian dan pengawasan penggunaan antibiotik merupakan tanggung jawab semua pemangku kepentingan. Dilain sisi edukasi penggunaan antibiotik yang bijak dan kampanye konsumsi protein hewani harus terus digalakkan

Hal ini dipicu dari sebuah laporan kolaborasi antara Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), World Animal Protection (WAP) dan Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) yang menuliskan bahwa ditemukannya bakteri resisten di dalam daging hasil sampel tim riset gabungan ketiga pihak tersebut. Ditambah lagi penggiringan opini oleh salah satu surat kabar nasional yang mengatakan bahwa bakteri resisten ditemukan dalam karkas ayam tersebut merupakan dampak dari penggunaan antibiotik yang serampangan oleh beberapa oknum peternak unggas yang disinyalir hasil dari sebuah wawancara.

Merespon hal tersebut, Forum Media Peternakan (FORMAT) yang terdiri atas majalah TROBOS Livestock, Majalah Poultry Indonesia, Majalah Infovet, Tabloid Sinar Tani, dan Majalah Swadaya menggelar pertemuan terbatas bersama sejumlah pemangku kepentingan perunggasan pada Kamis, (5/8). Acara yang bertajuk Focus Group Discussion dengan tema “Rambu-Rambu Penggunaan Antibiotik di Perunggasan” ini digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom dan menghadirkan berbagai asosiasi lingkup perunggasan seperti, PINSAR Indonesia, PPN, GOPAN, GPPU, GPMT, ASOHI dan PDHI. Turut hadir mewakili pemerintah, Drh Ni Made Ria Isriyanthi PhD, selaku Kasubdit Pengawasan Obat Hewan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

Dinamika lapangan

Berdasarkan penuturan Drh. Rahmat Nuriyanto, MBA, Ketua Bidang Kesmavet, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar Indonesia) menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai survei dan penelitian yang telah dipublikasikan diketahui bahwa telah lama ditemukan kasus resistensi bakteri E.coli terhadap beberapa antibiotik. Kekebalan terhadap E.coli ini sudah diketahui sekitar 20 tahun yang lalu. Berdasarkan survei tahun 2001, ditemukan resistensi E.coli pada beberapa antibiotik seperti amoxicillin hingga 50 persen, hingga adanya penelitian yang dilakukan oleh UNAIR bulan Oktober tahun lalu yang juga menemukan kekebalan E.coli terhadap antibiotik.

“Hal ini bukan menjadi sesuatu yang baru, hanya saja menjadi heboh ketika media mainstream menyandingkan hal ini dengan wawancara wartawan kepada oknum peternak yang kebetulan menggunakan antibiotik dalam keadaan ayam sehat. Sehingga dengan narasi tersebut, masyarakat umum yang tidak tahu, menganggap resistensi E.coli disebabkan oleh aktivitas budi daya perunggasan,” jelasnya.

Rahmat meluruskan bahwa sebenarnya resistensi E.coli ini telah berlangsung lama dan akibat dari kebiasaan masyarakat secara berulang, dimana dengan mudahnya mendapatkan antibiotik. Bahkan pada tahun 2003, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Depkes, menunjukkan bahwa proporsi penggunaan antibiotik di rumah sakit lebih dari 80 persen, dengan penggunaan yang tidak ada indikasi pemberiannya sekitar 43 persen.

“Sekali lagi bukan semata karena budidaya perunggasan, tapi merupakan tabungan dari sekian lama kebiasaan tidak baik masyarakat terhadap penggunaan antibiotik sendiri,” tegas Rahmat.

Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu takut untuk mengonsumsi daging dan telur ayam, karena E.coli atau bakteri lain yang kebal penyakit tersebut akan secara mudah mati hanya dengan pemasakan biasa.

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2021 dengan judul “Edukasi, Pengendalian dan Pengawasan Antibiotik pada Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153