Dokter Hewan Harus Bijak dalam Penggunaan Antimikroba

Dokter Hewan Harus Bijak dalam Penggunaan Antimikroba

Permasalahan terkait AMR atau Antimikrobial Resistance memang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Dalam bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pengendalian resistensi antimikroba, Dokter Hewan berperan penting dalam pemberian resep untuk antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab. Dokter Hewan juga harus berperan aktif dalam mengedukasi peternak dan pemilik hewan dalam perawatan hewan. Bagaimanapun juga AMR dapat menyebabkan infeksi bakteri yang lebih sulit untuk diobati, yang berefek pada kematian dan kerugian ekonomi. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya serius dalam menata penggunaan antimikroba.

Berangkat dari hal itu, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menggelar seminar bertajuk “Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Penatagunaan Antimikroba untuk Dokter Hewan” pada Senin, (4/10) secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Acara yang dilaksanakan secara virtual ini digelar selama lima hari berbeda, yakni tanggal 2 Oktober 2021 untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi, tanggal 4 Oktober 2021 untuk wilayah Jawa, tanggal 5 Oktober 2021 untuk wilayah Sumatra, tanggal 7 Oktober 2021 untuk wilayah Bali, NTT, dan NTB, serta tanggal 9 Oktober 2021 untuk wilayah Maluku, Papua, dan Papua Barat. Acara yang diikuti oleh Dokter Hewan di seluruh Indonesia ini, didukung oleh Kementerian Pertanian, Khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan juga FAO.

Menurut Dr. drh. M. Munawaroh, MM, selaku Ketua Umum PB PDHI dalam sambutannya mengatakan bahwa Dokter Hewan mempunyai tanggung jawab besar dalam penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab.

“Hari ini kita sudah sepakat bersama-sama bahwa kami sebagai Dokter Hewan mempunyai tanggung jawab dalam rangka penggunaan antibiotik. Perlu kita sadari bersama apabila hal ini tidak kita lakukan dengan penuh kesadaran, maka akan berdampak besar dan berbahaya untuk masyarakat luas. Oleh karena itu saya mengajak Dokter Hewan di seluruh Indonesia, mari kita mulai sosialisasikan ini kepada masyarakat, dan mari kita mulai bijak menggunakan antibiotik,” tutur Munawaroh.

Ia mewakili seluruh pengurus PDHI berharap agar Dokter Hewan bisa menjadi ujung tombak dalam penggunaan antimikroba ini, serta bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat khususnya para peternak agar mereka sadar bagaimana cara menggunakan antibiotik secara rasional, secara tidak berlebihan dan secara bijak.

“Hari ini kita sudah memiliki buku pedoman dalam rangka penggunaan antibiotik, jangan dijadikan buku pedoman itu hanya tersimpan dan tidak terbaca. Mari kita pelajari, karena buku itu telah disusun dengan baik, dan penuh kehati-hatian agar dapat memberikan pedoman kepada para Dokter Hewan di lapangan. Kami tidak akan pernah berhenti bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, khususnya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta FAO yang tiada hentinya mendukung bagaimana menyehatkan bangsa dari sisi Peternakan dan Kesehatan Hewan, maupun Kesehatan Masyarakat di Indonesia,” terangnya.

Dalam acara yang sama menurut Prof. Dr. drh. Ida Tjahajati, M.P., selaku narasumber pada seminar tersebut, mengatakan bahwa AMR merupakan suatu keadaan dimana mikroorganisme mampu untuk bertahan pada dosis terapi senyawa antimikroba, sehingga mikroorganisme tersebut masih mampu berkembang dan mengurangi keampuhan obat. Akibatnya dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit, memperparah, dan menyebabkan kematian dalam Tindakan pengobatan pada manusia, hewan, tumbuhan.
Lebih jauh Ida mengatakan alasan mengapa resistensi antibiotik lebih diutamakan, karena memang kasus resistensi antibiotik meningkat tajam di seluruh dunia.

“Resistensi ini menyebar secara global dan mengancam kemampuan untuk mengobati infeksi. Tak hanya itu, rendahnya jumlah penemuan antibiotik jenis baru juga menjadi alasan AMR perlu diutamakan,” ungkap Ida.

Masih menurut Ida, solusi untuk mengatasi resistensi antibiotik ini diantaranya pertama dengan menggunakan antibiotik yang diresepkan. Kedua, menggunakan antibiotik sesuai dengan penyebab penyakitnya. Ketiga adalah menggunakan antibiotik yang bijak, serta menggunakan antibiotik sesuai dosis dan waktu.

Lebih lanjut dalam acara yang sama, menurut Prof. drh. Deni Noviana, Ph.D, DAiCVIM., yang juga hadir sebagai narasumber mengungkapkan hal dasar yang melandasi penggunaan antibiotik dalam budi daya atau pemeliharaan hewan adalah indikasi penyakit dan secara umum praktisi Kesehatan hewan di Indonesia hampir selalu memanfaatkan antimikroba untuk semua jenis infeksi dan bahkan untuk mencegah infeksi.

”Selain itu ada juga hal teknis yang menjadi pemicu penggunaan antibiotik, diantaranya kemudahan akses memperoleh antibiotik, ketakutan kerugian akibat meluasnya penyakit, pencegahan hewan sehat menjadi sakit, serta untuk mendukung performa tubuh hewan,” jelas Deni.

Sedangkan menurut Drh. Ni Made Ria Isriyanthi, Ph.D, selaku Kasubdit POH yang menggantikan Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si, selaku Dirkesmavet, mengatakan bahwa penatagunaan antimikroba ini sangat penting untuk dilakukan agar pengobatan hewan di lapangan bisa lebih optimal.

“Penatagunaan antimikroba atau yang disingkat PGA merupakan serangkaian Tindakan logis dan konsisten yang mempromosikan penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab. PGA sendiri memiliki tujuan mengurangi kerusakan berkelanjutan akibat AMR pada hewan, manusia, dan lingkungan, serta mengoptimalkan biaya perawatan Kesehatan baik pada manusia maupun hewan,” ujar Ria.