Aplikasi Atap Fiber Semen pada Kandang Unggas

Aplikasi Atap Fiber Semen pada Kandang Unggas

Sumber Gambar: troboslivestock.com

Alatternakayam – Atap fiber semen menjadi pilihan yang pantas dipertimbangkan untuk konstruksi atap kandang ayam, diantara banyak pilihan bahan lain seperti rumbia, genting tanah, dan atap metal.

Hal tersebut dibedah pada seminar  ‘Meningkatkan Produktivitas Peternanakan Ayam dengan yang Kuat dan Menguntungkan’ yang digelar PT Djabesemen (Djabesmen) pada Rabu (11/12) di Hotel Sapphire Sky Hotel BSD (Bumi Serpong Damai), Tangerang. Acara ini dihadiri oleh peternak broiler maupun layer dari berbagai wilayah.

Djabesmen merupakan perusahaan lokal yang memproduksi atap fiber semen dengan mutu yang sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia). Chief of Marketing Djabesmen, Pepy Alamsjah dalam sambutannya mengungkapkan atap fiber semen Djabesmen sudah terbukti bisa meredam panas.

Sales Manager Djabesmen, Eko Yunianto memaparkan bahwa berbagai macam atap yang digunakan pada bangunan kandang memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Seperti atap seng yang masih digunakan di luar Pulau Jawa, sebab pemasangannya yang mudah. Pun demikian dengan atap rumbia yang banyak digunakan pada kandang-kandang konvensional.

Eko menerangkan bahwa ada pula yang menggunakan genteng dari tanah liat yang mampu menyerap panas dengan ketebalan lebih dari 80 milimeter. “Atap metal ketahanannya cukup lama, kemudian atap fiber semen atau asbes yang juga ketahanannya yang cukup lama, bahkan bisa dikatakan lintas generasi. Kelebihan lainnya dari atap fiber semen adalah pemasangannya yang cukup mudah, tidak berisik, bebas karat dan biayanya murah,” imbuh Eko.

Untuk kekurangan masing-masing atap, masih menurut Eko, pertama atap fiber semen relatif berat, atap rumbia sulit diperbaiki dan diganti sehingga setiap tahun harus ditambahkan dan per 3 – 4 tahun sekali diganti, gampang bocor, rawan hama dan terbakar.

Eko menengarai, atap metal cukup berisik, harga lebih mahal dan mudah berkarat jika terpapar amonia. Selanjutnya atap genteng dari tanah liat yaitu mudah berlumut, sistem konstruksi lebih rumit, rawan bocor dan lebih berat dari asbes dan untuk atap metal regular mudah berkarat dan panas.

“Lima poin penting dalam memilih atap yaitu suhu kelembapan, tingkat kebisingan, usia pakai, ukuran dan budget atau biaya. Semakin ideal suhu kandang, maka ayam akan jarang terserang penyakit. Genteng tanah liat paling baik dari segi penyerapan panas yaitu sekitar 40 %. Atap fiber semen di tengah-tengahnya, sedangkan atap metal, baik seng maupun galvalum sangat tinggi,” ungkap Eko.

Eko mengumbuhkan, efek suhu terhadap ayam adalah akan banyak minum, kemudian kembung sehingga konsumsi pakannya sedikit, tingkat kematian tinggi, kekurangan nutrisi dan kandang menjadi bau karena ammonia.

“Kebisingan adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan supaya ayam tidak stres. Atap yang awet erat hubungannya dengan pemeliharaan kandang, sehingga tidak perlu bongkar pasang lagi,” tutup Eko.

Faktor Kunci Lainnya

Selanjutnya, Ketua Harian Gopan (Gabungan Asosiasi Pengusaha Ayam Nasional), Sigit Prabowo menyampaikan saat ini banyak peternak muda atau peternak millenial yang berkecimpung di budidaya ayam, sehingga harus semangat mencari inovasi sampai membuat kandang yang nyaman bagi ayam. “Saat ini broiler modern waktu pemeliharaannya cepat, sehingga dibutuhkan kandang yang layak guna,” tegasnya.

Memasuki sesi diskusi Bendahara Umum Tri Group, Setya Winarno membahas terkait modernisasi kandang peternak rakyat secara efektif dan efisien. “Peternak dengan kandang sistem open house mungkin bisa panen ayam dengan bobot badan 1,4 – 1,6 kg dengan ayam per meternya sebanyak 8 ekor. Sedangkan dengan sistem kandang closed house per meternya bisa menampung 13 ekor ayam. Prediksi performa pada 2020 saat umur 28 hari bisa mencapai bobot badan 2 – 2,2 kg dengan FCR 1,48 – 1,52 dan total deplesi kurang dari 3 %,” jelasnya.

Direktur Tri Satya Mandiri (Tri Group), Ramadhana Dwi Putra Mandiri menyebutkan tiga hal yang menjadi pondasi keberhasilan produksi ayam yaitu topografi, kandang dan manajemen. Topografi dan kandang bersifat baku, lanjut Rama, artinya jika ingin diubah ataupun dimodifikasi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Menurutnya, manajemen bisa ditingkatkan guna meningkatkan performa ayam dan produksinya.

Perusahaan peternakannya mengembangkan inovasi berupa kandang tertutup knocked down / portabel. “Kita melakukan pre-fabrication untuk memproduksi material kandang dalam waktu 2 – 3 pekan dan dikirim ke lokasi kandang maksimal 3 pekan. Kandang portabel ini sudah finishing dan siap untuk running. Ini adalah terobosan yang kita buat,” katanya.

Rama menambahkan, kandang portabel ini mudah dibawa, ada keterangan nomor-nomornya guna memudahkan dalam pemasangan dan tinggal mempersiapkan bangunan sipilnya saja. Rama mengatakan bahwa nama prototip kandang tersebut adalah kandang rakyat digital, dengan prinsip tunnel systemed/bella

Baca Juga: Tips Membuat Kandang Ayam untuk Budidaya Ayam Broiler Organik

Sumber: troboslivestock.com