Analisis Pendapatan dan Efisiensi Biaya Ternak Ayam dengan Berbagai Sistem

Analisis Pendapatan dan Efisiensi Biaya Ternak Ayam dengan Berbagai Sistem

Analisis Biaya Ternak Ayam dengan Sistem Mandiri

Bisnis ternak ayam dengan sistem mandiri memerlukan permodalan yang kuat. Peternak harus bisa menyediakan berbagai kebutuhan ternak, mulai dari DOC, pakan, kandang, pemeliharaan dan kebutuhan lainnya secara mandiri. Berikut hitung-hitungan sederhana bagi Anda yang ingin memulai bisnis ternak ayam secara mandiri.

  1. Kandang ayam untuk 200 ekor ayam diestimasikan memerlukan biaya sebesar Rp 3.000.000,00.
  2. Tempat pakan ayam sekitar Rp 100.000,00.
  3. Tempat minum ayam sekitar Rp 110.000,00.
  4. Kebutuhan lampu penerangan sekitar Rp 35.000,00.
  5. Pembelian 200 ekor bibit ayam sekitar Rp 1.600.000,00.
  6. Kebutuhan pakan sekitar Rp 2.000.000,00.
  7. Kebutuhan obat-obatan sekitar Rp 150.000,00.
  8. Asumsikan 200 ekor ayam hanya membutuhkan 2 orang pegawai, maka gaji pegawai hanya sekitar Rp 2.000.000,00.
  9. Biaya listrik sekitar Rp 150.000,00

Total biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak mandiri adalah Rp 9.145.000,00. Asumsikan jika 200 ekor ayam yang diternak berhasil panen semuanya dengan harga Rp 35.000,00 per kg dan satu ekor ayam bisa berbobot 1,5 kg. Maka pendapatan dari penjualan ayam bisa mencapai Rp 10.500.000,00. Keuntungan bersih yang didapat oleh peternak mandiri dapat dihitung dengan mengurangkan pendapatan dan pengeluran, maka keuntungannya bisa mencapai Rp 1.355.000,00.

Analisis Biaya Ternak Ayam dengan Sistem Kemitraan

Berdasarkan biaya pengeluaran yang dirincikan pada peternak ayam mandiri, maka pada sistem kemitraan seorang peternak hanya perlu mengeluarkan biaya untuk kandang, tenaga kerja dan pemeliharaan. Sehingga, pengeluaran yang dihabiskan oleh peternak hanya sebesar Rp 5.395.000,00. Sedangkan, kebutuhan untuk bibit ayam, pakan dan obat-obatan disediakan oleh perusahaan inti sebagai penyedia mitra. Harga jual ayam dan besaran ayam sama dengan ayam yang dipanen dengan sistem mandiri. Hal yang sangat jelas dari analisis ini adalah pengeluaran peternak dengan sistem kemitraan yang jauh lebih rendah daripada peternak mandiri. Walaupun dalam pemeliharaan ayam juga ada intervensi dari perusahaan inti, namun jika terjadi kerugian tidak hanya ditanggung oleh peternak karena perusahaan inti juga dibebankan oleh kerugian tersebut. Keuntungan atau penghasilan sudah terlihat dari sebelum ayam siap untuk dipanen. Intervensi dari perusahaan inti untuk pemeliharaan ayam juga bisa memberikan tambahan ilmu bagi peternak karena perusahaan inti juga menyediakan tenaga teknisi untuk ternak ayam.

Memilih Sistem yang Tepat untuk Memulai Bisnis Ternak Ayam

Setiap sistem pada bisnis ternak ayam memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Peternak harus bisa memilih sistem yang tepat berdasarkan kemampuan finansial dan keterampilan ternak yang ia miliki. Beternak dengan sistem mandiri jelas bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena setiap pengeluaran dikelola oleh peternaknya sendiri. Namun, risiko kegagalannya juga tinggi jika peternak tidak cukup terampil untuk memelihara ayam ternak.

Beternak dengan sistem kemitraan bisa mengurangi keuntungan karena penyediaan pakan, ODC dan obat-obatan diatur oleh perusahaan inti. Sehingga, bisa saja pengeluaran untuk kebutuhan tersebut menjadi sangat besar karena pengeluaran tersebut menjadi pendapatan bagi perusahaan inti. Namun, perusahaan inti memberikan tenaga teknis yang ahli untuk ternak ayam, sehingga potensi kegagalan dalam beternak ayam sangat kecil.

Jika Anda masih kesulitan untuk memutuskan memulai usaha ternak ayam secara mandiri atau kemitraan, konsultasi kebingungan Anda pada UD Inti Mustika. Selain sebagai distributor alat ternak terlengkap, UD Inti Mustika juga memberikan solusi dan tips untuk kebutuhan ternak Anda. Segera cari tahu informasi lengkapnya dengan mengunjungi www.alatternakayam.com.