tanpa agp

Akhmad Harris Priyadi : Tantangan dan Perubahan di Era Tanpa AGP

tanpa agp
Sumber Gambar: http://trobos.com

Sejarah penggunaan AGP (antibiotic growth promoter) dimulai sekitar 1940. Pada 1986, Swedia menjadi negara pertama yang melarang penggunaan AGP diikuti Denmark pada 1998 dan Swiss di 1999. Pada 2006, Uni Eropa menyatakan bahwa semua antibiotika dilarang digunakan sebagai AGP. Di Asia, Korea Selatan melarang penggunaan AGP di 2011, Bangladesh sudah lebih dahulu di 2010. Di Thailand, bahkan sejak 2003 industri peternakannya secara sukarela membatasi atau menghentikan penggunaan AGP, mengingat 60 % hasil produksi broiler (ayam pedaging) di Thailand untuk tujuan ekspor ke negara-negara Uni Eropa.

Bila dicermati pemaparan Prof. Narin dari Kasetsart University, di Thailand walaupun saat ini mereka sudah terbiasa tidak lagi menggunakan AGP di pakan, pada awalnya tidaklah semudah yang diduga. Setidaknya 6 bulan pertama pasca tanpa AGP, kasus enteritis non-spesifik atau dysbacteriosis yang terlihat sebagai wet dropping (kotoran basah), liter yang basar, food-pad dermatitis, Necrotic Enteritis hingga Coccidiosis. Tentunya FCR (rasio konversi pakan) jadi bengkak, waktu panen mundur hingga mortalitas meningkat adalah kerugian yang mengikutinya.

Di tanah air, sedikit istimewa, karena per 1 Januari 2018, kita sudah tidak bisa lagi menggunakan antibiotik sebagai AGP juga pelarangan penggunaan Ionophores (coccidiostat) lewat pakan. Tentu kondisi ini lebih menantang, dibandingkan pengalaman negara-negara lain yang melakukan pelarangan penggunaan AGP. Umumnya, di negara lain hanya fokus pada pelarangan penggunaan AGP. Coccidiosis terkadang masih dapat ditemukan walau sangat jarang pada saat Ionophore masih diperbolehkan. Pada saat tidak lagi ada yang menekan pertumbuhan kuman patogen atau opportunistic pathogen, sedangkan load atau kontaminasi dari lingkungan masih terjadi, maka usus ayam (ternak) yang berisi pakan merupakan media tumbuh yang subur bagi kuman-kuman patogen ini. Bahkan di antara kuman patogen ada yang bersinergi dalam derajat keparahan walau berlainan jenis, seperti Clostridium perfringens dengan Eimeria tenella.

Dalam aturan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang baru, antibiotika hanya dapat digunakan sebagai pengobatan, setelah didiagnosa oleh pihak yang kompeten (dokter hewan) dengan dosis pengobatan dan jangka waktu pengobatan yang tuntas. Inipun masih harus disertai waktu henti obat (withdrawal period), dimana residu obat (antibiotika) yang diberikan pada ternak harus sudah tidak terdeteksi lagi di dalam jaringan tubuh (sudah tereliminir) via ginjal (urine) atau via hati dan usus besar.

Hal ini berarti peternak akan melakukan pengobatan setelah terjadi kasus penyakit (teramati gejala klinis) atau sudah dilakukan diagnosa. Tentunya ini akan terjadi pada usia ternak atau ayam sudah cukup besar, karena di awalnya kandang masih bersih dari kuman. Pengobatan tentu memerlukan dosis yang lebih tinggi daripada sub-therapeutic. Hal ini berdampak langsung pada dua hal yaitu pemakaian antibiotika yang lebih banyak (dosage therapy) yang menaikkan cost structure dan bahwasanya sudah berlangsung progres infeksi kuman di dalam tubuh ternak sebelum terdiagnosa (dapat teramati gejala klinisnya).

Dari segi biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan, tentu lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Imbasnya, bisnis obat hewan makin meningkat secara value (dosis lebih besar), namun ada pergeseran salah satunya dari AGP ke antibiotika medikasi, ataupun perubahan senyawa yang tadinya sediaan AGP pindah ke penggunaan pengganti AGP. Pengalaman Uni Eropa pasca pelarangan penggunaan AGP adalah meningkatnya penggunaan antibiotika (secara kuantitas) sehubungan digunakannya dosis pengobatan. Namun, Asohi (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan para pelaku obat hewan, tidak ada yang bermimpi untuk mengambil keuntungan dari situasi ini. Karena sifatnya yang tidak langgeng. Bila peternakan Indonesia terkenal dengan biaya produksinya yang tinggi dan hasil akhirnya yang kurang baik, ini seolah kita membuka pintu bagi masuknya produk peternakan impor (eks negara lain). Saat daging ayam impor masuk, maka selesailah usaha obat hewan itu sendiri, karena apalagi yang perlu diberi vitamin, vaksin, atau obat lainnya? Sudah berbentuk daging.

Dampak Kebijakan 
Setelah kebijakan pelarangan penggunaan AGP ini diberlakukan, pengakuan beberapa peternak layer (ayam petelur) komersial, per 1.000 ekor hasil telurnya turun 5 kg. Sedangkan peternak broiler ada yang melaporkan perlu waktu 3 hari lebih lama untuk mencapai berat badan yang sama, sebelum AGP dilarang. Sepertinya periode “kurang produktif” ini dapat berlangsung agak lebih lama, karena upaya pengurangan pathogen load (jumlah kontaminan) baik di lapangan/lingkungan atau yang masuk via pakan dan air minum boleh dikatakan biasa saja.

Seperti yang juga kita pahami, bahwa pengganti AGP dapat berhasil, karena manajemen kandang atau biosekuriti atau kontaminasi kuman patogen di Uni Eropa, Korea Selatan, atau Thailand umumnya jauh lebih baik dibandingkan sebagian besar kondisi peternakan rakyat atau kandang kemitraan. Bagi peternakan dengan modal yang besar, sudah marak yang menggunakan atau menerapkan closed house system dalam beternak. Seandainya dosis essential oil (sebagai pengganti AGP) di kandang yang bersih cukup hanya 300 g per ton pakan, bisa jadi kita perlu hingga 500 g per ton pakan agar hasilnya signifikan. Lagi-lagi soal biaya akan menjadi kendala. Mutu bahan baku pakan, terutama jagung lokal masih cukup beragam yang juga berpengaruh pada keberhasilan beternak. Begitu juga pengganti AGP yang lainnya. Karena kata kuncinya adalah pengendalian jumlah masuknya kontaminasi kuman patogen ke dalam tubuh ayam. Makin tinggi jumlah kumannya, makin sulit program pengendaliannya. Setidaknya akan makin mahal biayanya. Pada saat bersamaan, khususnya peternak layer, masih sering kita jumpai fenomena tanggap kebal yang menurun, vaksinasi yang kurang sesuai harapan bahkan adanya kasus yang ramai disebut dengan istilah 90/40. Penyakit viral yang mulai marak di pertengahan dan kuartal ke-3 di 2017, masih berlanjut hingga kini, walau tidak seintens tahun lalu.

Aspek Pembelajaran
Diperlukan usaha bersama antara para pemangku kepentingan termasuk dukungan pemerintah dan asosiasi. Karena peternak tidak sekonyong-konyong paham cara kerja pengganti AGP yang beragam jenis di pasaran dan kecocokan dengan situasi peternakannya. Mutu dan higienis pakan yang biasanya diabaikan juga harus lebih diperhatikan. Diperlukan investasi, apakah akan terbayar nantinya? Kita masih menjual telur dengan harga yang notabene sama, sebelum atau sesudah pelarangan AGP. Thailand mendapatkan margin yang masih cukup untuk bisa investasi perbaikan lingkungan dan sanitasi kandang yang ajeg dan berkesinambungan, karena menjual hasil olahan ayam pedagingnya ke Uni Eropa.

Pembelajaran utama dari penerapan kebijakan ini di Indonesia sebenarnya adalah kekompakan para pemangku kepentingan industri peternakan. Pendekatan yang multi aspek. Mungkin juga pemerintah mengeluarkan kebijakan bantuan lunak bagi peternak yang mau memodernkan kandangnya untuk memperkecil faktor risiko. Sebagaimana peternak sapi potong yang mendapat bentuk dukungan berupa asuransi sapi. Tidak digunakannya AGP atau pemakaian antibiotika secara lebih bertanggung jawab akan bermanfaat bagi upaya pengobatan penyakit infectious bacterial pada manusia. Karena diduga munculnya resistensi pada kasus infeksi di kedokteran manusia, ada kaitannya dengan penggunaan AGP di dalam pakan.

Kita sudah sepakat berpartisipasi pada program Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian) dalam upaya pengendalian AMR (Antimicrobial Resistance), tentunya kita harus konsekuen menjalankan agendanya. Pengurangan penggunaan antibiotika (bukan hanya AGP) yang harus kita upayakan bersama. Bukan sekedar beralih dari AGP menjadi antibiotika medikasi. Pasalnya, disamping lebih mahal karena dosis lebih tinggi, juga kita tidak ingin munculnya residu antibiotika di hasil akhir budidaya peternakan sebagai akibat pengobatan antibiotika di fase akhir.

Pembuat kebijakan, seyogyanya memiliki frekuensi yang sama dengan industri yang dibinanya. Peternakan Indonesia harus maju, aturan juga harus mendukung iklim usaha yang baik dan bertanggung jawab. Bisnis peternakan khususnya ayam ras yang sudah besar ini jangan sampai lambat laun tutup karena kesulitan yang kita buat sendiri. Banyaknya perubahan dan dinamika di dua tahun terakhir membuat napas peternakan Indonesia sudah mulai terengah-engah. Jagung lokal yang perlu ditingkatkan dari segi mutu (mycotoxin) dan ketersediaan, kasus penyakit viral, pelarangan AGP dan Ionophore, jumlah dan mutu DOC, harga jual daging dan telur bahkan faktor nilai tukar rupiah dan lainnya, menyebabkan roda peternakan kita berputar kurang lancar dan tersendat. Pelarangan AGP bagi kita sebenarnya lebih seperti puncak gunung es, dimana beberapa faktor lain juga terjadi tetapi tidak cukup terekspose. Semua mata hanya menyoroti dan tertuju pada kejadian pelarangan AGP yang di negara lain cepat teratasi, tidak sekompleks persoalannya seperti di kita.
Namun dunia belum berakhir, kita masih akan mampu mengatasi situasi ini. Tentunya kebersamaan semua sebagai pemangku kepentingan akan menunjang keberhasilan kita. Pemahaman akan konsep beternak yang kekinian, perbaikan kandang dan tata laksananya, mutu pakan, mutu dan ketersediaan bibit, pengarahan penggunaan pengganti AGP perlu lebih banyak dilakukan dari pakar perguruan tinggi yang mau meluangkan waktu dan menjadi bagian yang menawarkan solusi riil bagi kebingungan bersama ini.

Pangsa pasar kebutuhan daging, telur, susu dan ikan kita terlalu besar untuk diabaikan. Pangan adalah kebutuhan hakiki manusia untuk dapat hidup dan berkarya. Petani dan peternak kita harus mendapatkan penghargaan dalam perjuangannya menyediakan bahan pangan kita. Penghargaan yang bukan berupa sertifikat atau piala, tetapi keberpihakan, skema bantuan usaha, upaya inovasi terapan, solusi obat hewan lokal dengan sumber daya alam kita yang konon menurut bangsa lain sangat melimpah. Jangan terlalu mudah menggantungkan pada bangsa lain dalam swasembada atau upaya mencukupi pakan dan pangan kita. Kita fokus pada solusi, bukan hanya pendekatan superfisial saja yang berganti-ganti tanpa menyentuh akar permasalahan sesungguhnya. 

Baca Juga: Liputan Indo Live Stock 2018

Sumber: http://www.trobos.com/